Survei menunjukkan 8 warga negara tinggi anti-Muslimnya

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON – Sebuah studi terbaru mengungkap tanggapan masyarakat di negara-negara Eropa terhadap komunitas Muslim serta para imigran. Sikap masyarakat terhadap imigran dan umat Islam cenderung beragam di tiap negara.  


 


Penggagas studi adalah organisasi antirasisme Hope Not Hate, The Amadeu Antonio Foundation, dan Expo. Tim melakukan survei terhadap 12 ribu orang di Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Hungaria, Polandia, Belanda, dan Italia.


 


Negara dengan persentase pandangan negatif tertinggi adalah Hungaria. Sebanyak 60 persen responden asal Hungaria memiliki pandangan negatif terhadap imigran, sedangkan 54 persen lainnya berpikiran negatif mengenai komunitas Muslim.  


 


Peringkat kedua adalah Swedia, di mana sebanyak 50 persen respondennya menyebut imigran dan Muslim “sangat negatif” dan “cukup negatif”. Pandangan negatif terhadap kelompok minoritas Roma juga tercatat di Prancis dan Italia.


 


Masing-masing tercatat punya sikap negatif 67 persen (Italia) dan 62 persen (Prancis). Di Polandia, 30 persen berpandangan negatif terhadap imigran, 34 persen berpikir negatif terhadap Roma, serta 43 persen terhadap komunitas Muslim.  


 


Inggris tercatat memiliki sikap negatif terendah, yakni hanya 26 persen dan 30 persen terhadap Muslim serta kelompok imigran. Akan tetapi, mereka yang memiliki sikap positif juga tidak terlampau tinggi, yakni sebesar 29 persen.


 


Laporan tersebut juga menemukan bahwa sepanjang 2020 terdapat peningkatan teori konspirasi sayap kanan. Berbagai teori konspirasi Covid-19 turut memberikan rute baru menuju politik antisemit (prasangka atau kebencian terhadap kaum Yahudi).


 


Para penulis studi menjelaskan bagaimana ruang daring telah digunakan untuk mengemukakan berbagai penjelasan konspirasi. Ada pihak-pihak yang menyerukan sikap anti terhadap kebijakan   lockdown di sejumlah negara.


 


“Langkah-langkah itu dibangun menuju antisemitisme, penolakan Holocaust, dan kekaguman terhadap Hitler. Dikembangkan seolah mengandung teori berbeda tapi sebenarnya memuat nada antisemit,” ungkap peneliti, seperti dikutip dari laman Byline Times.


 


 


 


Sumber: bylinetimes 





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *