Global Wakaf-ACT berusaha membeli ubi dengan harga terbaik seribu rupiah per kilogram

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Aksi Cepat Tanggap bersama Global Wakaf dan Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia (YP3I) menargetkan panen 1.000 ton ubi di Mojokerto. Target ini digalakkan dalam rangka membantu para petani di daerah tersebut yang tengah merugi.


Harga ubi di sejumlah kecamatan di Mojokerto diketahui anjlok pada musim panen, yang tiba sekitar Desember-Januari lalu. Tim Program Global Wakaf-ACT, Mohammad Jakfar, menerangkan berdasarkan data yang dihimpun timnya, ubi hasil panen petani di Kecamatan Trawas dan Kecamatan Pacet hanya dihargai Rp200 per kilogram.


Panen ubi perdana ACT-YP3I dilakukan di sejumlah ladang di Desa Cepokolimo, Kecamatan Pacet, Jumat (5/2), dengan ikhtiar 70 ton ubi dapat dipanen dari ladang tersebut. Jakfar mengatakan, panen ini akan dilakukan selama beberapa minggu ke depan.


Dalam membantu petani ubi melalui sedekah, ACT bersama Global Wakaf juga menyinergikan program Wakaf Pangan Produktif yang diperuntukkan bagi masyarakat melalui pesantren dan sedekah.


“Tim kami terus melakukan asesmen ke petani-petani ubi yang membutuhkan dukungan. Di samping itu, kami juga langsung memanen ubi-ubi yang sudah siap. Insya Allah, hasil panen segera kami distribusikan ke target 3.000 pesantren di Jawa Timur, DIY, dan Jawa Tengah,” kata Jakfar, dikutip di laman resmi ACT, Senin (8/2).


Global Wakaf-ACT berusaha membeli ubi dengan harga terbaik, yakni seribu rupiah per kilogram. Selain membantu petani dari kerugian, Global Wakaf-ACT atas dukungan para dermawan juga membantu petani untuk segera menanam padi.


Di Kecamatan Pacet, tanaman ubi bertumpang sari dengan padi yang masa tanamnya bergilir dalam setahun. “Sebab itu, kami terus membutuhkan dukungan dermawan agar sinergi program-program ini dapat berjalan dengan baik,” ujar Jakfar.


Camat Kecamatan Pacet, Mokhammad Malik, juga hadir saat ACT-YP3I memanen ubi perdana di Desa Cepokolimo. Ia mengapresiasi kerja sama yang dilakukan pesantren dan ACT.


Malik berharap, sinergi seperti ini bisa dikembangkan, antara lain mengajak petani berinovasi dalam pengelolaan hasil panen.“Alhamdulillah ACT peduli dengan petani sehingga harga tidak terlalu jatuh. Petani pun bisa segera menanam padi. Di sisi lain, perlu kita pikirkan juga mengenai hasil olahan tela, barangkali ACT atau pihak manapun bisa membantu dalam pengelolaan hasil panen ubi,” kata dia.  


 





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *