Islam simbol intelektualitas.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Uttiek M Panji Astuti, Traveler dan Penulis Buku.


“Pakaian seperti ini (pakai jilbab) hanya atribut saja, kok. Identitas saya sebagai pelajar SMK 2 tidak kaitan dengan masalah iman,” kata Eka di SMKN 2 Padang, Senin (25/1). Eka mengaku, bisa saja tak memakai jilbab karena tak ada paksaan bagi siswi non-Muslim untuk memakai jilbab ke sekolah.


Siswi lainnya, Elisabeth Angelia Zega, mengaku, telah berkerudung ke sekolah sejak duduk di bangku SMP. Dia mengaku, tak pernah ada paksaan bagi dirinya yang non-Muslim untuk berjilbab. “Tidak ada unsur paksaan dan saya juga sudah dari SMP memakai jilbab ini,” kata Elisabeth Angelia Zega. 


Belum lama, muncul berita tentang siswi non-Muslim yang memakai kerudung ke sekolah. Peristiwanya sendiri sudah clear, tidak ada paksaan bagi murid. Beberapa siswi yang diwawancara pun telah memberikan klarifikasinya.


Masalah kembali ramai setelah muncul penyataan dari Menteri Pendidikan yang kemudian ditanggapi Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas. Melalui surat terbuka, Buya Abbas mempertanyakan maksudnya.


“Apakah maksud dari pernyataan menteri tersebut para siswi yang beragama Islam mulai dari sejak dikeluarkannya pernyataan tersebut tidak boleh lagi untuk memakai busana Muslimah ke sekolah atau bagaimana?” kata Anwar dalam keterangan tertulisnya, Kamis (28/1).


Dalam sejarah, tercatat segala hal yang terkait dengan Islam pernah menjadi tren. Pada periode emas Andalusia, semua orang ingin terlihat seperti Muslim. 


Para bangsawan dan ilmuwan dari berbagai negeri berbangga hati bila bisa mengenakan gamis dan serban, bicara dalam bahasa Arab, dan bisa menuliskan namanya memakai aksara Arab. 


Barang-barang produksi Andalusia menjadi komoditas yang laris di pasar Eropa. Para raja menghiasi istana dan jubah-jubah kebesarannya dengan kufic (kaligrafi Arab). 


Salah satu buktinya masih bisa disaksikan di Museum Louvre, Prancis, yang menyimpan koleksi lukisan Bunda Maria yang mengenakan penutup kepala menyerupai kerudung. Menariknya, kerudung itu berhias kaligrafi kalimat Tauhid.


Sewaktu berada di Kota Cordoba, Spanyol, saya juga sempet terkecoh dengan salah satu patung yang saya lihat di dekat hotel tempat menginap.


Patung pria itu memakai gamis, serban, dan berjenggot, duduk sambil membawa buku. Saya pikir, itu adalah patung salah satu ilmuwan Muslim yang banyak menghiasi kota Cordoba. 


Ternyata setelah mendekat dan membaca keterangan di bawahnya, itu adalah patung Maimonides, seorang filsuf Yahudi yang menimba ilmu di Universitas Al Qarawiyyin, Fez, Maroko, serta di Andalusia.



Keterangan: Patung Ibnu Rush (Averos) di Cordoba, Spanyol.


Seperti kota-kota di Eropa pada umumnya, banyak sekali patung tokoh-tokoh terkemuka di jalan-jalan utama. Selain berfungsi estetika untuk keindahan kota, juga sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasa mereka. 


Adalah pemandangan yang lazim di Kota Cordoba kalau patung-patung itu berjenggot, memakai gamis, serban, serta membawa kitab, sekalipun bukan Muslim!


Di banyak museum juga dengan mudah dijumpai dokumen atau surat yang ditulis menggunakan bahasa aljamiado, bahasa Spanyol yang ditulis menggunakan aksara Arab. Mirip dengan Arab pegon atau Arab Melayu.


Sejarah Aljamiado, Aksara Pegon ala Spanyol - Alif.ID


Keterangan foto: Tulisan berbahasa Spanyol dengan menggunakan aksara Arab.


Jadi kalau sekarang kita berbangga bisa bicara “keminggris”, alias menyelipkan satu dua kosakata bahasa Inggris, percayalah, pada waktu itu orang Inggris dan orang Eropa lebih bangga kalau bisa bicara “kemarab” alias menggunakan bahasa Arab. Karena segala hal tentang Islam adalah simbol intelektualitas.  


Jakarta,  3/2/2021


 





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *