Vaksin menurut asosiasi medis Islam Inggris tak batalkan puasa.

REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI — Asosiasi Medis Islam Inggris membolehkan vaksinasi Covid-19 saat puasa. Menurut mereka, hal tersebut tak membatalkan puasa. 

Sekretaris Jenderal Asosiasi Medis Islam Inggris, Dr Salman Waqar, mengatakan, pandangan Islam tentang masalah tersebut cukup jelas. 

“Para cendekiawan Muslim di seluruh dunia, tidak hanya di Eropa dan Inggris, telah mengatakan bahwa vaksin Covid secara agama diperbolehkan dan bahwa mengambil vaksin selama Ramadhan tidak akan membatalkan puasa Anda,” kata Dr Salman dikutip dari The Nationalnews.com, Jumat (19/2).

Dalam konsultasi dengan cendekiawan Islam, organisasi profesional perawatan kesehatan Muslim menerbitkan panduan yang bertujuan membendung gelombang informasi yang salah seputar topik tersebut, terutama di antara komunitas etnis minoritas.

Beberapa muslim khawatir bahwa potensi efek samping mungkin mengharuskan mereka untuk berbuka puasa, tetapi Dr Salman mengatakan tertular virus adalah masalah yang lebih besar.

“Keputusan yang harus mereka ambil adalah haruskah saya meminum vaksin yang terbukti aman dan efektif dan mungkin mengalami beberapa efek samping ringan yang hanya bertahan satu atau dua hari? Atau apakah saya berisiko tertular Covid, yang bisa membuat saya cukup sakit, yang berarti saya merindukan seluruh Ramadhan?,” tuturnya.

Menteri Penanganan Vaksin Inggris, Nadhim Zahawi, mengatakan, negara itu akan menyesuaikan kampanye virus korona untuk memperhitungkan Ramadhan, tetapi masih belum jelas bagaimana itu akan dilakukan.

Zahawi mengakui bahwa umat Islam mungkin enggan menerima suntikan pertama mereka sekarang karena dosis kedua akan diberikan selama Ramadan.

Lantas, Inggris mengizinkan penundaan 12 minggu di antara suntikan, sehingga mereka yang menerima dosis pertama dalam beberapa minggu berikutnya akan dijadwalkan menerima dosis kedua saat mereka berpuasa.

Adapun, petugas medis juga tengah mempertimbangkan apakah etnis dan profesi seseorang harus digunakan untuk menentukan kapan mereka menerima suntikan selama tahap berikutnya dari strategi distribusi.

“Kami tahu bahwa populasi Muslim telah terkena pandemi Covid secara tidak proporsional, baik dalam hal kasus dan kematian serta dampaknya pada kehidupan dan mata pencaharian. Jadi penting bahwa komunitas ini didukung untuk mendapatkan vaksin,” kata Dr Salman.

National Health Service Race and Health Observatory meminta para pemimpin komunitas dan perawatan kesehatan untuk meninjau cara-cara meningkatkan permintaan vaksin di antara komunitas etnis minoritas.

Dr Salman, yang bekerja di pusat vaksin sendiri, mengatakan jam buka dapat diperpanjang selama Ramadhan agar orang dapat menerima suntikan setelah matahari terbenam, ketika umat Islam berbuka puasa.

Berkomunikasi secara efektif dengan komunitas Muslim adalah prioritas dan Bima telah menggunakan media sosial untuk menyebarkan pesan bahwa vaksin itu aman dan diperbolehkan secara agama.

“Nasihat kami, sungguh, adalah mengatakan bahwa vaksin tersebut terbukti aman, terbukti efektif, jadi Anda tidak boleh menunda pemberian vaksin pada bulan Ramadan,” katanya.

Dr Salman memperingatkan umat Islam agar tidak berpuas diri begitu mereka divaksinasi. Ia juga mengimbau agar kebiasaan tradisional Ramadhan tidak dilakukan tahun ini.

“Ramadhan adalah waktu yang indah untuk dihabiskan bersama keluarga dan teman-teman dan di masjid, saat salat malam, dan sebagainya,” katanya.

“Tapi tahun ini kita harus terus berhati-hati, karena meskipun orang sudah mendapatkan vaksin. Tidak cukup banyak orang, tidak hanya di kota Anda, keluarga Anda, tetapi di negara Anda dan bahkan dunia, yang sudah mendapatkan vaksin untuk kami mengatakan bahwa kami memiliki kekebalan kelompok yang cukup bagi kami untuk kembali ke cara kami dulu melakukan sesuatu,” pungkasnya.





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *