Gus Miftah hadir di gereja mendapat tanggapan dari Bahtsul Masail PBNU.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Beberapa hari lalu, Pendakwah Miftah Maulana Habiburrahman atau yang akrab disapa Gus Miftah ramai diperbincangkan warganet karena ceramahnya di sebuah gereja di Jakarta Utara. Warganet menganggap apa yang dilakukan Gus Miftah terlalu toleran.

Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail PBNU Mahbub Maafi menanggapi hal itu. Dia mengatakan apa yang dilakukan Gus Miftah hanya sebatas hadir dalam peresmian gereja dan tidak ada masalahnya. Memang, beberapa pandangan ulama berbeda dalam hukum masuk gereja atau tempat ibadah agama lain.

“Ada perbedaan ulama ketika menyangkut hukum soal masuk gereja atau tempat ibadah agama lain,” kata Mahbub kepada Republika, Selasa (4/5).

Beberapa pandangan ulama menyatakan makruh masuk gereja atau sinagoge. Sebagian mahzab Syafi’i tidak membolehkan bagi Muslim masuk tempat ibadah non-Muslim kecuali mendapat izin.

Sementara sebagian lagi menyatakan tidak halal memasuki tempat ibadah non-Muslim walaupun tanpa izin. Mahzab lain, seperti Hanbali membolehkan masuk tempat ibadah agama lain. “Jadi pendapat dari para ulama bermacam-macam. Ada yang katakan makruh, boleh, boleh dengan izin, bahkan ada yang membolehkan melakukan shalat di sana,” ujar dia.

Namun, menyangkut soal Gus Miftah, tetap tidak ada yang harus dipermasalahkan. Sebab, dia hanya datang di peresmian gereja, tidak ada masalah.

Sebelumnya, Gus Miftah mengklarifikasi soal ceramahnya itu di akun instagramnya. Dalam unggahan videonya ia menjelaskan kedatangannya di gereja bukan dalam rangka ibadah melainkan atas undangan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dalam rangka orasi kebangsaan.

“Assalamu’alaikum, kemarin rame karena ceramah saya di gereja, padahal kemarin diajak pak Gubernur, saya diminta orasi kebangsaan soal kerukunan,” kata Gus Miftah dalam unggahan videonya yang dilihat pada Selasa (4/5).

Menurut dia, apa yang dilakukannya adalah hal wajar karena dalam rangka menjaga hubungan dengan sesama anak bangsa. “Menurut saya biasa, konteksnya bukan ibadah, itu peresmian gereja maka saya bilang, silaturrahmi kita dengan Tuhan ya sholat, silaturrahmi kita dengan kanjeng Nabi ya sholawat, silaturrahmi kita dengan anak bangsa ya pancasila,” ucap dia. 





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *