Melalui beasiswa Kaderisasi Seribu Ulama diharapkan lahir ulama profesional dan ahli

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) bersama lintas lembaga menyalurkan beasiswa kaderisasi ulama untuk jenjang pascasarjana melalui program Kaderisasi Seribu Ulama (KSU).

“KSU merupakan program beasiswa yang dikembangkan Baznas sejak tahun 2007 dengan tujuan melahirkan ulama yang profesional dan ahli dalam bidangnya,” kata Ketua Baznas, Noor Achmad, dalam keterangan tertulisnya kepada Republika.

Noor mengungkapkan, melalui beasiswa Kaderisasi Seribu Ulama ini, diharapkan lahir para ulama yang yang memiliki kemampuan tinggi dalam pemikiran Islam, intelektual, dan berintegritas.

Dalam kesempatan tersebut, Sekjen MUI, Amirsyah Tambunan, dan pimpinan Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI menyampaikan laporan perkembangan realiasi program KSU. Terutama, mahasiswa S3 kader ulama yang sudah menyelesaikan pendidikan dan yang masih dalam tahap penyelesaian disertasi.

Amirsyah mengatakan, agenda silaturahim MUI-Baznas digelar dalam rangka menjalin sinergisitas untuk memperkuat potensi zakat secara nasional.

“Kita berharap dengan memperkuat sinergisitas ini, potensi zakat secara nasional bisa optimal dan dapat dimaksimalkan dengan baik,” kata Amirsyah.

Amirsyah mengungkapkan, realisasi penghimpunan zakat nasional saat ini masih begitu jauh dari potensinya. Karena itu, Amirsyah menilai perlu sinergisitas dan kerja keras bersama agar muzakki membayarkan zakatnya kepada organisasi pengelola zakat yang resmi.

“Kita semua harus bekerja keras untuk meyakinkan para muzakki supaya membayarkan zakatnya secara tertib dan rutin kepada organisasi pengelola zakat yang resmi, sehingga dapat diakumulasi dalam data penghimpunan zakat secara nasional,” kata Amirsyah.

Amirsyah berharap, lewat sinergi MUI-Baznas ini potensi zakat dapat mencapai target sesuai yang diharapkan sehingga dapat memberikan manfaat kepada umat.

“Untuk itu MUI berharap potensi zakat dapat di maksimalkan sehingga zakat mencapai target baik melalui Baznas maupun Laznas Nasional seperti NU dan Muhammadiyah,” kata Amirsyah.





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *