Kiai Asad Said Ali menyarankan PBNU bersikap tegas terkait Abu Janda

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA – Salah satu tokoh senior Nahdlatul Ulama, KH As’ad Said Ali, menyarankan kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk bersikap tergas terhadap aktivis dunia maya, Permadi Arya alias Abu Janda. Karena, dia menilai Abu Janda telah memanfaatkan nama besar NU untuk kepentingan prbadi dan bisa merusak keutuhan NU.


“Sebagai warga Nahdliyin saya menyarankan, sudah saatnya PBNU secara resmi bersikap tegas terhadap Abu Janda. Dia memanfaatkan nama besar NU untuk kepentingan pribadi yang kalau dibiarkan akan merusak keutuhan NU,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang sudah dikonfirmasi Republika.co.id, Sabtu (30/1).


Beberapa tahun yang lalu, selaku ketua Dewan Penasihat Ansor, Kiai As’ad Ali sebenarnya telah memrpertanyakan kepada pimpinan GP Ansor tentang sosok Abu Janda. Karena, Abu Janda saat itu kerap memproklamirkan dirinya sebagai orang yang pernah ikut dalam Banser dan Ansor.


“Saya mempertanyakan kepada pimpinan GP Ansor tentang Abu Janda setelah dia bicara ngawur tentang NU di TV. Kesimpulan saya dia penyusup ke dalam Ansor atau NU, sehingga perlu ditelusuri mengapa bisa ikut pendidikan kader Ansor atau Banser,” ujar tokoh yang pernah menjabat sebagai Wakil Kepala BIN era presiden KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur itu.


Setelah diperiksa lebih lanjut, menurut dia, ternyata tidak ada rekomendasi dari cabang atau wilayah Banser sesuai dengan persyaratan untuk diterima sebagai peserta kaderisasi Ansor.


“Dia diterima atas rekomendasi seorang tokoh NU, saya kira dengan pertimbangan prasangka baik dan tidak mengecek latar belakang siapa sebenarnya Abu Janda,” kata Kiai Asad yang pernah juga menjabat sebagai wakil ketua Umum PBNU itu.


Oleh pimpinan Banser, menurut Kiai As’ad Ali, Abu Janda kemudian ditegur agar tidak berbicara tentang ke-NU-an lagi atas nama Ansor. Bahkan, pimpinan Banser juga telah menginformasikan kepada beberapa media terkenal mengenai hal itu. Namun, sayangnya Abu Janda sudah terlanjur pernah memakai seragam Ansor.


“Persoalannya, ia sudah terlanjur pernah memakai seragam Banser di media dan publik menyangka ia bagian dari NU padahal fikrah dan akhlaknya bukan pengikut Aswaja,” jelasnya.


Dia menambahkan, kerusakan provokasi yang ditimbulkan di lingkungan NU selama ini cukup besar. Beberapa pondok pesantren merasa terusik dan bahkan ada yang menjauhi struktur NU, seperti halnya di daerah sekitar Bogor. 


Menurut Kiai Asad, semua itu karena apa yang disampaikan oleh Abu Janda bertolak belakang dengan fikrah an Nahdliyah (pemikiran NU).


“Saya mensinyalir ada Abu Janda-Abu Janda yang lain yang berpura pura membela NU melalui media sosial, tetapi sesungguhnya musang berbulu domba,” ungkapnya. 





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *