Gus Miftah menjelaskan tujuan strategis dari dakwah di gereja

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Pendakwah dan tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU), KH Miftah Maulana Habiburrahman, atau yang akrab disapa Gus Miftah banyak diperbincangkan warganet pascamelakukan ceramah di sebuah gereja di Jakarta Utara. Sebagian warganet menganggap langkah Gus Miftah tersebut sebagai bentuk toleransi yang kebablasan. 


Namun, dengan berceramah di gereja, Gus Miftah justru membuat seorang mualaf di Amerika Serikat, Grarad kembali ke jalan Islam setelah dia sempat dibuat kecewa ustadz-ustadz yang ajarannya cenderung mengajak untuk membenci.


Bahkan, keluarga Gerard kini juga berencana untuk menjadi mualaf.  “Alhamdulillah, pengakuan seorang mualaf di Amerika, dan keluarganya otw mualaf insya Allah, gara-gara video itu,” ujar Gus Miftah kepada Republika.co.id melalui pesan What’sApp, Selasa (4.5).


Gus Miftah merasa mungkin dirinya masih banyak melakukan kesalahan. Kendati demikian, menurut dia, ceramahnya di gereja tersebut ternyata ada kebaikan dan menjadi hidayah bagi orang-orang untuk kembali ke jalan Islam dan masuk Islam.


“Mungkin saja saya salah dimata kalian orang-orang hebat, dan saya memang banyak salah. Tapi Alhamdulillah masih ada kebaikan dan secercah hidayah dari sesuatu yang kalian anggap salah,” kata Gus Miftah.


“Maaf ya kalau saya sering berbuat salah, kalau saya dianggap kafir, insya Allah saya masih bersyahadat yang sama dengan kalian kok,” imbuhnya.


Dalam tangkapan layar percakapannya dengan Gus Miftah lewat WA, seorang muallaf yang tumbuh dan besar di Amerika Serikat, Gerard mengaku baru saja masuk Islam beberapa waktu lalu. Keluarganya kini ada yang berencana masuk Islam. Karena itu, dia ingin berkomunikasi dengan Gus Miftah.


Selain itu, Gerard juga mengaku kagum dengan ceramah Gus Miftah di gereja. Berikut pengakuan lengkapnya:


“Saya sangat kagum dengan ceramah Gus Miftah di gereja beberapa hari yang lalu…setelah memutuskan menjadi Islam beberapa bulan yang lalu, jujur saya merasakan ada penyesalan di dalam hati, karena ketika saya baru mengenal Islam saya masih dipertemukan dengan ustadz-ustadz yang menurut saya (maaf) ajarannya yang kasar dan cenderung membenci…saya yang baru mengenal Islam pada akhirnya menjadi kecewa. Setelah melihat video Gus Miftah beberapa waktu yang lalu, saya mulai kembali tertarik, saya semakin sadar kalau masih sangat banyak ustadz-ustadz yang berpikiran open minded, ceramah-ceramahnya bikin hati tenang dan tenteram,” kata Gerard dalam pengakuannya kepada Gus Miftah.  





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *