Islam memberikan kemudahan pemeluknya dalam beribadah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Kemudahan beribadah adalah ruh dari hukum Islam yang tertinggi. Islam datang sebagai agama umum bagi semua manusia di setiap zaman dan tempat, sehingga sistem yang bercirikan kelengkapan dan kapasitas yang besar ini harus mudah bagi semua orang.


Sistem tersebut juga membuat banyak orang tidak terbebani dalam melakukan ibadah. terutama dalam beberapa keadaan yang dihadapi mereka. 


Dan berikut ini adalah bentuk-bentuk betapa mudahnya ajaran Islam, khususnya pada tiga ibadah yaitu sholat, puasa dan zakat: 


1. Sholat 


– Boleh bertayamum (wudhu tanpa air) jika tidak ditemukan air untuk berwudhu 


– Jika sakit maka boleh melakukan gerakan sholat sesuai kemampuan. Misalnya sambil berdiri, atau jika tidak bisa juga, sambil duduk 


– Memperpendek pelaksanaan sholat ketika dalam kondisi sedang bepergian atau saat mengalami ketakutan. Yaitu dengan meng-qashar sholat yang empat rakaat menjadi dua rakaat 


– Dibolehkan menjamak sholat atau menggabungkan sholat, baik itu jamak takdim ataupun jamak ta’khir  


2. Puasa


Puasa di bulan suci Ramadhan memang wajib bagi setiap Muslim yang dewasa dan waras. Namun, ada kalanya Islam membolehkan seorang Muslim untuk tidak berpuasa. Berikut sejumlah keringanan dalam puasa:


– Dibolehkan bagi orang sakit dan musafir untuk tidak berpuasa atau membatalkan puasanya. Kemudian puasa itu diganti sesuai tata cara syariat  


– Islam membolehkan wanita hamil dan menyusui untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan jika mereka mengkhawatirkan kesehatan dirinya atau anak sedang dikandungnya. 


3. Zakat


– Membayar zakat setahun sekali


– Zakat tidak dibebankan pada semua harta benda. Zakat dikenakan secara terbatas pada barang-barang tertentu, seperti hewan ternak, hasil panen, dan barang dagangan  


– Zakat baru dikenakan kepada seorang Muslim jika sudah mencapai nisab. Ayat Alquran dan hadits telah memberi penjelasan mengenai jumlah spesifik zakat untuk masing-masing jenisnya.


4. Haji


– Melempar jumrah yaitu setelah matahari melewati puncaknya, dan dibolehkan melempar jumrah pada malam hari pada tanggal 12 pada hari ke-11 Dzulhijjah. Dan malam tanggal 13 pada hari ke-12. Dan pada hari ke-13 yaitu waktu terakhir pelemparan jumroh saat Matahari terbenam.


Sumber: mawdoo3


 





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *