Terjadi serangkaian serangan kekerasan terhadap Muslim di Kanada.

REPUBLIKA.CO.ID, OTTAWA — Dewan Nasional Muslim Kanada (NCCM) mengeluarkan 61 rekomendasi kepada Pemerintah atau otoritas terkait untuk mengatasi Islamofobia di negara tersebut. Tindakan ini sebagai reaksi berbagai kasus serangan dan insiden kebencian yang menargetkan komunitas Muslim.


Rekomendasi tersebut termasuk pengembangan strategi anti-Islamofobia dan pendanaan untuk membantu mendukung korban kejahatan bermotif kebencian.


“Meskipun kami telah mendengar banyak kata dari politikus yang mengutuk Islamofobia dan berdiri dalam solidaritas dengan Muslim di Kanada, tindakan mengatasi Islamofobia berjalan lambat dan sedikit demi sedikit,” kata kelompok itu dalam laporannya dilansir dari Aljazirah, Senin (19/7).


Kelompok itu juga mendesak provinsi-provinsi di Kanada memastikan direktorat anti-rasialisme mereka memiliki sumber daya yang baik. Sementara bagi kotamadya mendanai upaya berbasis masyarakat untuk mengatasi Islamofobia.


“Kami tidak bisa berdiam diri dan melihat lebih banyak nyawa hilang.  Islamofobia mematikan dan kita perlu melihat tindakannya sekarang,” katanya.


Rekomendasi datang hanya beberapa hari sebelum pertemuan puncak tentang Islamofobia setelah serangan mematikan di London, Ontario kepada empat anggota keluarga Muslim. Polisi setempat mengatakan serangan itu dimotivasi oleh kebencian anti-Muslim dan tersangka telah didakwa dengan pelanggaran “terorisme”.


KTT Nasional tentang Islamofobia akan diadakan pada Kamis (22/7), sehari setelah KTT Nasional tentang Antisemitisme. “Di Kanada, keragaman adalah salah satu kekuatan terbesar kami, namun kami terus melihat kebencian yang dipicu oleh rasisme dan diskriminasi mengambil korban yang tidak dapat diterima di komunitas kami,” kata Menteri Keragaman, Inklusi, dan Pemuda Kanada Bardish Chagger mengatakan dalam sebuah pernyataan di bulan ini. 


“Kami tahu masalah serius ini tidak akan diselesaikan dengan pendekatan top-down, jadi kami harus secara aktif mendengarkan suara masyarakat yang terkena dampak langsung rasialisme,”ujarnya.


Komunitas Muslim telah meningkatkan kewaspadaan selama bertahun-tahun di tengah serangkaian serangan kekerasan, termasuk penembakan massal mematikan di sebuah masjid di Kota Quebec yang menewaskan enam jemaah Muslim pada Januari 2017. Seorang penjaga masjid di ujung barat Toronto, Ontario, ditikam hingga tewas pada Oktober tahun lalu, sementara wanita Muslim di Edmonton, Alberta, menuntut tindakan segera di tengah serangkaian serangan verbal dan serangan yang mereka katakan telah membuat mereka merasa tidak aman secara fisik. 


Bulan ini juga, sebuah masjid di Cambridge, Ontario, sekitar 100 kilometer dari Toronto, dirusak. Seorang ibu dan anak perempuan Muslim di Hamilton, kota lain di Barat Toronto, diancam oleh seorang pengemudi yang melontarkan cercaan rasial kepada mereka.


Mantan ketua masjid Quebec tempat serangan tahun 2017 terjadi Mohamed Labidi mengatakan dalam konferensi pers pada Senin bahwa masjid itu diundang untuk berpartisipasi dalam KTT anti-Islamofobia. “Kami terpukul keras oleh Islamofobia dan kebencian. Kami berada di posisi terbaik untuk memberikan solusi kepada pemerintah untuk memerangi Islamofobia dan kebencian secara umum,” kata Labidi.





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *