Masri mengaku merasa diasingkan dengan tidak dilibatkan dalam rapat-rapat pimpinan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Wakil Rektor III (Bidang Kemahasiswaan) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Dr Masri Mansour menilai, pemecatan dirinya tidak berdasar dan mengada-ada.


Sebagaimana diketahui, Prof Masri Mansour dan Prof Andi Faisal Bakti diberhentikan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Amany Lubis, baru-baru ini karena alasan tak bisa bekerjasama. “Alasan pemberhentian saya dicari-cari dan mengada-ada dan disebutkan saya tidak dapat bekerja sama dengan Rektor,” kata Masri dalam  keterangan tertulis yang diterima Republika, Jumat (19/2).


Menurut dia, apa yang sesungguhnya terjadi adalah diputusnya koordinasi antara rektor dengan dia terkait dengan tugas pokok dan fungsi dirinya sebagai wakil rektor. Masri mengaku merasa diasingkan dengan tidak dilibatkan dalam rapat-rapat pimpinan yang berhubungan dengan tupoksinya sebagai wakil rektor.  Menurut dia, ini  telah berlangsung selama tiga bulan terakhir.“Kami diberhentikan tanpa proses klarifikasi, pemeriksaan yang sesuai dengan aturan kepegawaian dan peraturan perundang-undangan,” ungkap dia.


Dia pun mengatakan, pemberhentian dua wakil rektor UIN Syarif Hidayatullah diduga karena namanya dan  dicantumkan sebagai saksi dalam laporan ke polisi oleh pihak lain dan tergabung dalam upaya pengungkapan dugaan penyalahgunaan wewenang dan pelanggaran etik.“Selanjutnya saya akan berkonsultasi dengan kuasa hukum saya, tentang langkah-langkah hukum yang diambil,” kata dia. 



Hingga berita ini diturunkan, Republika.co.id berupaya untuk mengonfirmasi kepada pihak Prof Dr Amany Lubis sebagai rektor yang mengeluarkan surat pemberhentian. Meski demikian, belum ada tanggapan dari yang bersangkutan. 


 


Berikut keterangan selengkapnya dari Prof Dr Masri Mansour.


Pernyataan Prof. Dr. Masri Mansour,  M.A. Wakil Rektor III (Bidang Kemahasiswaan) 2019-2021.


1. Saya Prof. Dr. Masri Mansour, M.A., benar diberhentikan dari jabatan Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, berdasarkan Surat Keputusan Rektor sebagaimana terlampir.


2. Alasan pemberhentian saya dicari-cari dan mengada-ada dan disebutkan saya tidak dapat bekerjasama dengan Rektor.


3. Bahwa yang sesungguhnya terjadi adalah diputusnya koordinasi antara Rektor dan saya terkait dengan tugas pokok dan fungsi saya. Bahkan saya diasingkan dengan tidak dilibatkan dalam rapat-rapat pimpinan yang berhubungan dengan tupoksi saya. Situasi ini berlangsung selama 3 bulan terakhir. 


4. Kami diberhentikan tanpa proses klarifikasi, pemeriksaan yang sesuai dengan aturan kepegawaian dan peraturan perundang-undangan. 


5. Sebelumnya saya sudah menduga akan diberhentikan karena permohonan dialog yang sehat tidak pernah diklarifikasi. Pemanggilan terhadap saya dilakukan 2 kali tanpa menyebutkan apa pelanggaran yang saya lakukan.


6. Langkah Rektor telah memberhentikan secara sewenang-wenang dan diduga melanggar peraturan perundang-undangan.


7. Kami sangat prihatin dan cemas dengan kondisi yang terjadi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, karena UIN dikelola secara tidak profesional, tidak patuh pada prinsip-prinsip good university governance (GUG).


8. Sebagai warga negara yang baik, saya akan membela hak-hak hukum kami.


9. Sebagai informasi, bahwa kami diberhentikan diduga karena nama saya dicantumkan sebagai saksi dalam laporan ke polisi oleh pihak lain dan tergabung dalam upaya pengungkapan dugaan penyalahgunaan wewenang dan pelanggaran etik. 


10. Selanjutnya saya akan berkonsultasi dengan kuasa hukum saya, tentang langkah-langkah hukum yang diambil.





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *