Laporan meningkatnya diskriminasi Muslim di Amerika dalam setahun terakhir ini.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON–Sebuah laporan baru dari Council on American-Islamic Relations (CAIR) mencatat adanya peningkatan keluhan tentang bias yang diarahkan pada Muslim di negara itu. Organisasi advokasi Muslim tersebut merinci kasus diskriminasi setahun terakhir adalah yang terbesar selama ini.

DIlansir dari Religion News Service, laporan berjudul “Ketahanan dalam Menghadapi Kebencian: Laporan Hak Sipil 2021” menemukan peningkatan sembilan persen dalam pengaduan pada tahun 2020, bahkan saat kejahatan rasial turun sebesar 20 persen.  Para peneliti tidak memberikan alasan untuk peningkatan keluhan tetapi menyarankan bahwa penurunan kejahatan rasial secara tidak langsung disebabkan oleh lockdown Covid-19.

Laporan tersebut merinci 6.144 pengaduan hak-hak sipil yang diterima CAIR, baik di kantor pusat nasionalnya di Washington, DC, atau melalui afiliasinya di seluruh negara, pada tahun 2020. CAIR mengidentifikasi tujuh kategori pengaduan, selain masalah imigrasi dan perjalanan, organisasi tersebut melacak penegakan hukum  masalah pengawasan dan penjangkauan, masalah hak narapidana, insiden yang melibatkan fasilitas pendidikan, diskriminasi langsung, insiden kebencian hingga bias dan insiden lainnya.

Dari lebih dari 6.000 pengaduan, 2.069 insiden diklasifikasikan sebagai “lainnya,” yang menunjukkan sifat amorf dari praktik kebencian dan diskriminasi anti-Muslim.  Contoh yang diberikan dalam laporan tersebut berkisar dari tindakan bias yang terang-terangan, seperti bisnis Oklahoma yang memasang tanda yang mengatakan tidak akan melayani Muslim, hingga insiden yang lebih halus di mana Muslim menerima penundaan yang tidak terduga atau gangguan lain dalam bisnis atau transaksi layanan publik.

Sekitar 1.814 pengaduan terkait masalah imigrasi dan terkait perjalanan tercatat.  Lebih dari setengahnya dilaporkan sebagai diskriminasi kerja, berjumlah 1.151.  Itu termasuk insiden di beberapa perusahaan terbesar di negara itu, seperti waralaba Walmart dan McDonald’s.

Insiden lain berkisar dari individu yang ditolak aksesnya ke lisensi senjata tersembunyi hingga beberapa contoh penolakan akomodasi keagamaan bagi narapidana Muslim yang ditahan di berbagai fasilitas pemasyarakatan yang dikelola negara dan daerah.

Dari 114 kejadian yang melibatkan institusi pendidikan, 44 persen di antaranya adalah kejadian bullying terhadap karyawan atau pelajar.

“Laporan penting ini dengan jelas menunjukkan perlunya kewaspadaan berkelanjutan dalam membela hak-hak sipil bagi Muslim Amerika dan anggota dari semua komunitas minoritas lainnya,” kata Direktur Eksekutif Nasional CAIR Nihad Awad dalam sebuah pernyataan yang dirilis bersama laporan tersebut.

 “Sangat penting bagi mereka yang menantang kefanatikan dan kebencian yang berkembang menerima dukungan yang mereka butuhkan untuk menghadapi tantangan kritis ini,”tambahnya. 





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *