Seri ke-14 mengupas tema Ramadhan dan dilema kemiskinan.

REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK —  Bulan Ramadhan tahun ini memang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Pandemi Covid-19 yang belum usai memaksa masyarakat Muslim  tidak lagi dapat beribadah sebagaimana biasanya. Akan tetapi, kondisi ini tidak lantas membatasi ruang gerak   untuk terus berkontribusi dengan cara apapun. Termasuk di antaranya dengan mempererat silaturahim, saling mendukung, dan menguatkan, meski lewat media online. 


Salah satu program yang berhasil diselenggarakan oleh Forum Doktor Indonesia di bulan Ramadhan ini di masa pandemi adalah kegiatan Tadarus Ilmiah Ramadhan 2021. “Program ini dirancang sebagai sarana berbagi ilmu dan diskusi para doktor di Indonesia, terkait permasalahan bangsa,” kata Ketua Pelaksana, Dr  Khamdan dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Senin (26/4).  


Tadarus Ilmiah Ramadhan 1442 H seri ke-14  diadakan pada Sabtu (24/4). Kegiatan itu  menampilkan narasumber Dr Ai Nur Bayinah. Ia merupakan  dosen Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) SEBI dan direktur eksekutif SIBERC, Depok. Adapun moderator adalah Dr  Muna Yastuti Madrah  ST  MM (dosen Unissula Semarang).


Dr Ai – begitu Dr Ai Nur Bayinah  biasa dipanggil – membawakan tema tentang  Ramadhan dan dilema kemiskinan.  Ia  menjelaskan bahwa, “Bulan Ramadhan merupakan momen penting untuk menguatkan ekonomi umat. Dilema kemiskinan yang bertambah parah akibat pandemi, tentu membutuhkan dukungan semua elemen untuk mengatasinya.”


Ia mengutip sebuah penelitian Campante dan Drott tahun 2015 yang dipublikasi di The Quarterly Journal of Economics. Penelitian itu  menemukan bahwa secara kuantitatif puasa Ramadhan memberikan dampak negatif  terhadap pertumbuhan output di negara-negara Muslim. Akan tetapi, penelitian berjudul “Does Religion Affect Economic Growth and Happiness? Evidence from Ramadan” ini, juga menemukan bahwa ternyata kesejahteraan subjektif di antara masyarakat Muslim justru meningkat.


Temuan ini menjadi menarik, apalagi dalam riset Hassan dan Yilmac Genc, tahun 2019 mendapati bahwa 1 dari 5 Muslim di dunia hidup miskin. “Artinya, kita butuh sarana lain, selain zakat untuk membantu saudara Muslim lainnya yang mengalami kesulitan keuangan,” ujar Ai.


Menurutnya, perlu ada sebuah sistem yang komprehensif dan integratif, yang mampu menciptakan ruang kemandirian yang cukup. “Hal ini penting agar masyarakat Muslim yang membutuhkan bantuan dapat mengakses sumber daya yang dibutuhkan untuk berproduksi dan mandiri,” papar Dr Ai.


Tema Ramadhan dan dilema kemiskinan, menurut Dr  Khamdan,   penting untuk menelaah terkait, “Bagaimana sebenarnya strategi pengentasan kemiskinan di negeri yang sebenarnya tak miskin ini. Orang miskin sebagai dampak sistemik, yang dalam kriteria kemiskinan bukan bagian dari miskin.”


Dalam kegiatan Tadarus lmiah Ramadhan 1442 H, Forum Doktor Indonesia berkolaborasi dengan 22 kolaborator, di antaranya Komunitas Peminat Buku Indonesia, Unissula, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Walisongo, UIN Imam Bonjol Padang, IAIN Pontianak, IAIN Metro, STAINU, Poltekip, Pusat Studi Hukum IAIN Syeikh Nurjati Cirebon, SEBI Islamic Business & Economic Research Center (SIBERC), dan 11 kampus lainnya. 





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *