Ikan tersebut dihargai di kisaran Rp 25 ribu per kilogram.

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU-–Dompet Dhuafa bekerja sama dengan kelompok tani Darul Arqam Mutualism mengembangkan budidaya ikan air tawar jenis nila merah. Panen perdana pun dilakukan di areal tambak yang terletak di Blok Gandok, Desa Kenanga, Kecamatan Sindang, Kabupaten indramayu, Ahad (2/5) sore.


Ikan nila merah itu mulai dibudidayakan sejak tiga bulan lalu di empat petak tambak. Di setiap petak yang berukuran 12 X 20 meter, ditebarkan benih sebanyak 2.000 ekor. Saat ini, ikan nila merah yang berhasil dipanen mencapai lima sampai enam kuintal per petak tambak.


Adapun bobot ikan nila merah yang dipanen itu mencapai tiga sampai empat ekor per kilogramnya. Ikan tersebut dihargai di kisaran Rp 25 ribu per kilogram. Untuk pemasarannya, sudah ada pihak yang datang langsung membelinya.


‘’Ini adalah salah satu program pemberdyaan ekonomi Dompet Dhuafa sebagai ikhtiar untuk meningkatkan ekonomi masyarakat selaku penerima manfaat,’’ ujar Direktur Dakwah, Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat (DBPM) Dompet Dhuafa, Ustaz Ahmad Shonhaji, di sela acara panen tersebut.


Shonhaji menambahkan, kerja sama yang dilakukan Dompet Dhuafa dengan kelompok tani Darul Arqam Mutualism itu juga sebagai bentuk pembelajaran pengelolaan dana zakat. Melalui program itu, maka zakat yang disalurkan kepada penerima manfaat tidak langsung habis, melainkan terus dikembangkan.


Shonhaji menyebutkan, dari empat petak tambak budidaya ikan nila merah yang sudah berjalan, kini telah bertambah dua petak lagi. Penebaran benih ikan nila merah di dua petak baru itupun dilakukan bersamaan dengan panen perdana hari ini.  


‘’Ini adalah pilot project. Memang sekarang baru satu kelompok tani, tapi kita akan terus menambah jumlah kelompoknya supaya lebih banyak lagi,’’ kata Shonhaji.


Shonhaji berharap, program pemberdayaan itu bisa meningkatkan ekonomi dan ketahanan pangan para penerima manfaat. Apalagi di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang. Selain itu, melalui program tersebut, diharapkan akan tumbuh rasa syukur dan peningkatan ibadah dari para penerima manfaat.


‘’Kita berharap ada peningkatan ketahanan ekonomi masyarakat. Jangan terus menjadi penerima manfaat, tapi kedepannya juga harus menjadi pemberi manfaat. Mustahik harus menjadi muzaki,’’ tegas Shonhaji.


Ketua Kelompok Tani Darul Arqam Mutualism, Husein, mengaku sangat berterima kasih dengan adanya program tersebut. Apalagi, sebagian dari sepuluh anggotanya semula ada yang tidak memiliki pekerjaan. ‘’Sekarang Alhamdulillah, bisa memperoleh penghasilan dari tambak ini,’’ tutur Husein.


Hal senada diungkapkan Sekretaris Desa Kenanga, Tarsinah. Dia pun menyambut baik adanya program Dompet Dhuafa karena bisa meningkatkan perekonomian warganya.


Tarsinah berharap, program tersebut bisa menyasar lebih banyak lagi warganya. Dengan demikian, warganya yang saat ini banyak menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI), bisa mengurungkan niat mereka berangkat ke luar negeri. ‘’Terutama untuk purna TKI, jangan balik lagi ke negara orang. Di desa sendiri juga banyak potensi yang bisa dikembangkan,’’ tukas Tarsinah.


Tokoh masyarakat Desa Kenanga, Darwinah, berharap, budidaya ikan nila merah yang dilaksanakan Dompet Dhuafa di desanya, kedepan diharapkan bisa dikembangkan pula produk turunannya. Seperti misalnya, produk abon ikan ataupun kerupuk kulit ikan.


‘’Kami berharap program ini bisa jadi role model dan dapat meningkatkan ekonomi dari para penerima manfaatnya,’’ tandas perempuan yang juga menjadi penggerak ekonomi para purna TKI tersebut. 





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *