Harlah NU ke-95 menunjukkan kiprah dan tantangan NU ke depan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA —Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) akan berulang tahun yang ke-95 pada Sabtu (31/1). Banyak hal yang telah dilakukan NU untuk kemaslahatan agama dan bangsa. Pengamat Organisasi Islam yang juga Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Sukron Kamil menjelaskan ada banyak hal yang telah dilakukan NU untuk kepentingan Islam dan Indonesia.

Prof Sukron menjelaskan sebagai sebuah organisasi, berdirinya NU memberi warna baru di tengah eksistensi ormas Islam sebelumnya semisal Muhammadiyah dan Sarekat Islam (SI).  

“Nahdlatul Ulama itu adalah sesuai namanya yaitu kebangkitan ulama, yang itu berarti sebenarnya adalah upaya untuk mempertahankan Islam sebagai sebuah tradisi. Artinya NU dari awal berkomitmen untuk mengembangkan pola-pola Islam yang telah dikembangkan oleh para wali songo. Islam yang sekarang ini dikenal dengan Islam Nusantara, sebuah corak Islam yang secara ushul itu sama dengan Islam yang lain, hanya secara praktik tentu disesuikan dengan kondisi Indonesia,” kata Prof Sukron kepada Republika pada Jumat (29/1).

Dalam hal-hal furu, menurut Prof Sukron NU menghadirkan cara pandang berbeda dari organisasi Islam lainnya yang menjadikan NU memiliki kekhasan. Pada sisi lain, menurut Prof Sukron para ulama NU pun produktif dalam membuat karya-karya Ilmiah yang bukan saja mengembangkan dakwah Islam namun juga sesuai dengan kenusantaraan.


NU juga telah memberi warna dalam dinamika politik Indonesia. Prof Sukron mencatat turunnya NU dalam politik praktis sekitar tahun 55 telah menyatukan banyak suara Muslim. NU pun mampu meraih suara cukup besar. NU menurut Prof Sukron juga sangat berjasa besar dalam mengembangkan Departemen Agama di mana banyak kader-kader terbaik NU mengisi posisi menteri.

“NU itu juga berperan di dalam terutama mengembangkan pendidikan Islam, terutama lewat Pesantren. Pesantren-pesantren NU itu sudah dikenal dari sejak lama, meskipun di dalam beberapa bagian NU susah dibedakan antara lembaga pendidikan NU dalam pengertian pesanten tradisional dengan yang dimiliki oleh individu-individu ulama-ulama di bawah NU,” katanya.





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *