Dari Islamophobia dengan cadar sampai peradaban masker masa kini.

Oleh : Jaya Suprana

REPUBLIKA.CO.ID, — Inilah tulisan perdana budayawan,filsuf, sekaligus pakar kelimurologi, Jaya Suprana. Dalam tulisan ini penggagas Museum Rekor Indonesia (MURI) dan pengusaha ‘Jamu Jago’ mengisahkan situasi peradaban masa kini yang tengah dilanda pandemi. Beginilah tulisannya:


KEBANGKITAN PERADABAN MASKER


Cadar merupakan busana tradisional masyarakat Timur Tengah terutama yang bermukim di kawasan gurun pasir sebagai alat pelindung hidung dan mulut terhadap gangguan debu terhadap saluran pernafasan manusia.


Sementara masyarakat Barat mengenakan masker juga untuk melindungi bagian hidung dan mulut yang terutama digunakan oleh para perawat dan dokter dari bakteri dan virus yang masuk ke tubuh manusia melalui saluran pernafasan.


Namun kemudian citra masker tercemar akibat dikenakan oleh para perampok bank demi menyamarkan identitas diri agar sulit tertangkap oleh polisi.


Di belahan akhir abad XX masker mengalami pencemaran citra secara global akibat kerap digunakan para terorisme menyamarkan diri ketika melakukan angkara murka terorisme mereka.


Karena ada pelaku terror yang kebetulan Muslim maka setitik nila merusak susu sebelangga sehingga secara gebyah-uyah masker diidentifikasikan dengan Islam yang kemudian merambah ikut merusak citra cadar akibat kebetulan cadar menutupi bagian hidup dan mulut pengenanya.


Maka cadar dilarang di negeri penderita Islamophobia seperti Prancis dan Belanda. Bahkan di Indonesia yang merupakan negara dengan populasi umat Islam terbesar di dunia, cadar sempat dikaitkan dengan terorisme sebab  di dalam kelompok teroris kebetulan ada perempuan yang mengenakan cadar.


Di bandara-bandara internasional mau pun domestik,  kaum perempuan yang mengenakan cadar serta kaum lelaki berciri etnis Arab lazimnya paling cermat diperiksa oleh para petugas keamanan bandara. Pendek kata citra cadar berada di titik terendah peradaban dunia sampai pada awal tahun 2020 mendadak muncul pagebluk Corona. 


GEGARA CORONA


Akibat angkara murka virus Corona ganas menyerang saluran pernafasan manusia di seluruh pelosok planet bumi mendadak masker menjadi bagian melekat pada peradaban umat manusia di planet bumi yang cuma satu dan satu-satunya ini.


Mendadak masker menjadi bagian busana yang tidak bisa lepas dari peradaban umat manusia yang masih tidak ingin dirinya tertular virus Corona. Alih-alih dilarang malah masker mendadak diwajibkan digunakan dengan ancaman sanksi mulai dari sekedar teguran sampai denda bahkan hukuman penjara.


Siapa enggan atau lupa mengenakan masker di tempat umum langsung menjadi sasaran hujatan mulai dari asosial sampai egois tanpa peduli kepentingan umum. Masker menjadi lambang kesadaran sosial yang paling utama dalam perjuangan umat manusia melawan Corona.


Jika sebelum Corona, orang pakai masker dilarang masuk ke bank maka setelah Corona orang TIDAK  pakai masker dilarang masuk bank. Gegara Corona , orang-orang TIDAK pakai masker dilarang masuk ke bandara dan stasiun kereta api dan bus.


Donald Trump yang benci cadar akibat Islamofobik akhirnya pakai masker.


 





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *