Jejak Dakwah Pasukan Diponegoro

REPUBLIKA.CO.ID, Pilihan Pangeran Diponegoro untuk berperang gerilya di kawasan itu berbukit di perbukitan di Jawa Tengah bagian selatan –lazim juga disebut oegunungan Urut Sewu atau Pegununungan Serayu Selatan —  tampaknya pun tepat. Ini terbukti dalam peta operasi militer Belanda, di wilayah perang Jawa yang terbentang dari Banyumas, Kedu hingga Pacitan, wilayah selatan Jawa itulah sebagai konsentrasi pendirian benteng tentara lapangan.


Tapi uniknya, bila dilihat jejaknya sekarang, bekas lokasi pendirian benteng stelsel yang didirikan untuk memecah gerak pasukan Diponegoro, hampir selalu berdiri di kampung berpenduduk Muslim yang kental. Dan setelah dilacak lagi, lazimnya kampung tempat berdirinya benteng Belanda itu merupakan bekas markas gerilnya Diponegoro. Uniknya lagi, bekas markas Diponegoro jamak merupakan masjid atau pesantren.


Contohnya, bila dilihat wilayah Kebumen Utara merupakan wilayah dakwah Islam yang kuat. Ini terbukti di dekat itu kawasan itu ada pesantren tua, Somalangu. Atau juga lokasi bekas benteng stelsel yang ada di Kebumen Selatan, yang berada di dua kampungsantri, yakni Petanahan dan Podoluhur.


Hasil gambar untuk sebaran benteng stelsel


Benteng stelsel yang merupakan semacam benteng lapangan yang terbuat dari kayu keras, terutama batang kelapa yang dijadikan dindingnya, merupakan benteng yang kecil yang merupakan benteng ‘Lockdown’ sehingga gampang dipindah. Benteng ini akan menginduk pada sebuah benteng besar yang menjadi pusat pengendali pasukan.


Sisa benteng lapangan itu pada Perang Jawa itu sudah tak ada. Yang tersisa salah satunya adalah benteng induk pasukan. Benteng ini masih berdiri hingga sekarang di Gombong. Benteng dan Gombong ini para era akhir kolonal juga masih dipakai sebagai pusat latihan tentara KNIL. Salah satu tentara jempolan yang lahir dari pendidikan di benteng ini adalah mantan Presiden Soeharto.


Dalam sejarahnya, Siasat ini mulai diterapkan pada tahun 1827. Penggagasnya adalah Jendral de Kock dengan maksud mengurung gerak pasukan Diponegoro yang melakukan gerilya dan pusat komandonya yang terus berpindah.


Maka benteng ini kemudian dibangun disekujur wilayah perang Jawa, mulai dari  Semarang, kemudian Ambarawa, Muntilan, Kulon Progo, dan Magelang, hingga kawasan Selatan Barat Jawa Tengah (Kedu dan Banyumas), dan Jawa Timur. Selama kurun 1827 hingga 1830 Belanda membangun benteng ini di  165 lokasi.


Dukungan dunia pesantren terhadap perjuangan Diponegoro memang sangat kuat. Bahkan, khusus untuk di kawasan Kebumen utara, misalnya di sana peran Pesantren Somalangu dan jaringannya yang sudah eksis sejak zaman kerajaan Demak, tak bisa diremehkan. Para santri dari pesantren ini kemudian banyak  mendirikan pesantren berpengaruh di wilayah Selatan Jawa tersebut.


Pesantren Somalangu sebagai salah satu poros pesantren tua dahulu didirikan seorang utusan Sultan Demak, Raden Patah yang berasal dari Handramaut: Syekh Abdul Kahfi. Dari prasti yang terbuat dari semacam batu jade (batu biru), Pesantren ini ditengarai didirikan pada 25 Sya’ban 879 H atau Rabu, 4 Januari 1475 M. Kalau benar, maka pesantren ini bisa disebut pesantren tertua di Asia Tenggara. (Namun, mendiang sejarawan DR Kuntowijoyo yang sempat mengadakan penelitian di tempat itu pada dekade akhir dekade awal 1970-an, mengatakan bila pesantren di Somalangu itu berdiri sejak awal Kesultanan Mataram,red).


Dalam sejarahnya, Syekh Abdul Kahfi, berhasil tinggal di dusun Somalangu  (kini bernama desa Sumber Adi) yang dahulu bernama ‘Alang-Alang Wangi’ setelah beradu ilmu dengan seorang resi yang mengelola sebuah candi Hindu (sisa candi ini terlihat pada dua buah Yoni dan Lingga yang cukup besar).

photo

Sepasang Lingga dan Yoni bekas candi di dekat Pesantren Somalangu Kebumen.

Catatan sejarah juga, di pesantren inilah terjadi konflik pertama kali antara para anggota Laskar pejuang Islam yang tergabung dalam AOI (Angkatan Umat Islam) dengan tentara RI di bawah komando Ahmad Yani, menjelang tahun 1950-an.


“https://www.republika.co.id/”Konflik itu terjadi imbas kebijakan ‘Rera’ (Reorganisai Tentara) yang digagas Wapres Moh Hatta. Para anggota Laskar AOI yang sebelumnya gigih berperang melawan Belanda sepanjang garis demarkasi sekitar Gombong-Kebumen-Banyumas, tiba-tiba akibat kebijakan itu mereka tak bisa jadi tentara resmi,”https://www.republika.co.id/” tutur Moh Fahmi peneliti pesantren dan dosen sebuah perguruan tinggi yang ada di Kebumen.


Celakanya, lanjut Fahmi, konflik serta kesalahpahaman antara Laskar AOI dan tentara RI kala itu makin membesar karena juga adanya bau persaingan ideologi. Laskar AOI yang berlatar belakang Islam merasa terancam dengan paham sebagian tentara RI yang kala itu mereka duga sudah berafliasi paham komunis.


“Maka konflik pecah, sebelum sempat ditengahi oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX selaku menteri pertahanan. Dusun dan pesantren Somalangu diserbu tentara dari kesatuan “kuda Putih’ yang komandoi Ahmad Yani.  Puluhan rumah di bakar, para anggota AOI di kejar-kejar. Kyai Somalngu, yang akrab dipanggil Romo Pusat, mati tertembak dalam pengejaran di dekat perbukitan Srandil Cilacap,”https://www.republika.co.id/” kata Fahmi lagi.


 





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *