Rumah, keluarga, sekolah dan masyarakat harus sinergi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas),  Ahad (2/5), Laznas BMH menggelar virtual event dengan menghadirkan tiga narasumber sekaligus. Mereka adalah Guru Besar IPB, Prof Dr  Ir Euis Sunarti;  kemudian Founder Kandank Jurank Doank;  Dik Doank; dan Kepala Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah DPP Hidayatullah, Ustadz Nanang Noerpatria.


Adapun tema yang diangkat adalah “Senyum Anak Indonesia, Cerdaskan Bangsa, Bangkitkan Martabat Negeri”. 


Dalam paparannya, Prof  Euis, demikian biasa disapa menjelaskan bahwa rumah, sekolah dan masyarakat harus sinergi untuk lahirnya anak-anak bangsa yang tumbuh kembang secara optimal.


“Rumah, keluarga, sekolah dan masyarakat, harus sinergi menghasilkan anak-anak yang berkualitas,” jelasnya seperti dikutip dalam rilis yang diterima Republika.co.id.


Namun demikian, langkah ini tidak mudah, terutama pada tataran keluarga, dalam hal ini ibu di rumah. “Ditemukan bahwa di masa pandemi, banyak ibu tidak siap menjalankan peran yang sebetulnya mulia dan membanggakan.  Yang terjadi malah mengeluh, pusing, hampir depresi, dan lain sebagainya. Itulah yang disampaikan sebagian kaum ibu di media sosial,” imbuhnya.


Menghadapi itu semua, kata Prof Euis,  keluarga harus memiliki tujuan dan  berusaha sepenuh hati untuk ke depan memanen anak-anak yang berkualitas.


Sementara itu, Dik Doank menyatakan bahwa masalah pendidikan di Tanah Air bukan lagi darurat tetapi sekarat justru di tengah teknologi berkembang pesat.


“Anak-anak sekarang gampang mencari ilmu, buka youtube bisa, bahkan sangat mungkin akan lebih luas wawasannya dibanding gurunya di sekolah. Tapi sekarang mudah dapat ilmu, sulit mencari guru yang bisa memberikan teladan. Ini yang kurang dari negeri ini, guru-guru yang dirindukan karena teladan,” tegasnya.


Namun demikian, Dik Doank menegaskan bahwa orang tua tidak bisa menyerahkan pendidikan anak sepenuhnya  kepada sekolah. 


“Ingat, sekolah bukan bengkel, bapak dan ibunya yang harus saleh dan salehah, setelah itu guru yang saleh dan salehah. Apa itu saleh dan salehah, yakni benar-benar memikirkan perbuatannya, ibadahnya, bermanfaat bagi kebaikan sebanyak-banyak orang,” jelasnya.


Pembicara ketiga, Ustadz Nanang Noerpatria menegaskan bahwa selain keluarga dan sekolah serta masyarakat, tempat yang juga berpengaruh besar terhadap pendidikan generasi bangsa adalah masjid.


“Masjid ini kata kunci dalam pendidikan. Kalau ada sekolah besar belum punya masjid, bangunlah masjid, di sana anak-anak akan belajar tentang tazkiyah dan adab sekaligus. Meski demikian kata kunci pertama tetap keluarga. Keluarga tempat pertama dan utama menanamkan adab, berangkatnya harus dari keluarga, baru ke sekolah dan masyarakat,” tutupnya.





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *