Laboratorium keagamaan itu untuk perkuat program Kita Cinta Papua

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Untuk memperkuat program Kita Cinta Papua (KCP), Kementerian Agama (Kemenag) membangun laboratorium keagamaan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia (IC) Sorong, Papua Barat. Peletakkan batu pertama pembangunan laboratorium ini dilakukan Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Islam (Pendis), Muhammad Ali Ramdhani pada Jumat (13/11).

“Pendidikan di madrasah tidak hanya transformasi ilmu akan tetapi harus ada proses transformasi nilai,” kata Ramdhani melalui siaran pers yang diterima Republika Senin (16/11).

Masih dalam rangka memperkuat program KCP, Ramdhani menghadiri pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) di Papua Barat. Kepada para PTK, Dirjen Pendis Kemenag mengingatkan pentingnya membangun budaya kerja yang transformatif dan humanis.

Menurutnya, guru juga harus mampu berperan sebagai pemimpin. Pemimpin lahir untuk melayani umat. “Dan kepemimpinan yang transformatif adalah dia yang mampu melakukan seluruh kaidah kepemimpinan ketika ada hal yang dipandang perlu dilakukan,” ujarnya.

Ia mengatakan, PTK dan kepala madrasah harus mengedepankan sikap humanisme dalam mengajar. Artinya proses pendidikan yang berlangsung di madrasah harus mampu menampilkan nilai-nilai kemanusiaan.

Ia mengingatkan, setiap proses kegiatan belajar mengajar di madrasah, jangan sampai menjadi beban tersendiri bagi anak didik. “Jangan kita bebani anak didik dengan hal yang di luar kemampuan mereka. Esensi dari humanisme adalah menempatkan sesuai pada tempatnya sesuai dengan porsinya,” jelasnya.

Dirjen Pendis Kemenag juga menemui para guru madrasah yang berada di bagian Timur Indonesia dan berada di daerah tertinggal, terluar dan terdepan (3T). Ia berpesan bahwa saat ini merupakan era pengetahuan, banyak hal yang harus ditingkatkan oleh para guru madrasah.

Ia menjelaskan, eksistensi seorang guru tergantung pada kemampuan untuk meningkatkan ilmu yang berkembang saat ini. Ia mengatakan, jika ilmu pengetahuan tidak ditingkatkan, maka sejatinya kematian hakiki dari profesi seorang guru telah menjadi nyata. Sebab orang yang terpelajar hanyalah pemilik masa lalu.


“Namun orang yang terus belajar yang akan menjadi pemilik masa depan,” jelasnya.

Para guru madrasah di Papua Barat dari daerah 3T ini ada di bawah binaan Kemenag. Mereka diberi keterampilan bagaimana belajar yang menyenangkan di tengah serba keterbatasan. Selain itu, para guru yang tersebar di wilayah Papua Barat ini juga dibekali keterampilan untuk bisa membuat konten pembelajaran melalui gadget atau handphone secara mudah sehingga para guru diharapkan mampu berkreasi secara cepat dan mampu mengembangkannya.





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *