ISIS melakukan upaya intimidasi di sejumlah ladang minyak Total Mozambik

REPUBLIKA.CO.ID, PALMA – Kolumnis The Institute for Security Studies (ISS), Peter Fabricius, menulis artikel tentang analisanya terhadap pemberontakan ISIS di Palma, Mozambik. 


Pada 24 Maret lalu, kelompok teror menyerang kota pesisir utara Mozambik, Palma, hingga menewaskan puluhan orang dan menjarah serta menghancurkan bangunan.


Insiden itu memaksa perusahaan raksasa energi Prancis, Total, untuk meninggalkan pabrik pemrosesan gas alam cair bernilai miliaran dolar di Afungi yang berdekatan. Menurut Fabricius, secara teoritis, Total akan kembali jika pasukan keamanan Mozambik dapat menjamin radius stabilitas yang memadai di sekitar Afungi termasuk Palma.


Tetapi ada tanda-tanda tidak menyenangkan bahwa Total tidak berencana untuk kembali dalam waktu dekat. Total telah mengalihkan perhatiannya ke proyek Tilenga untuk memanfaatkan lebih dari satu miliar barel minyak dan gas di bawah barat laut Danau Albert Uganda di perbatasan dengan Republik Demokratik Kongo (DRC). 


Ini, bersama dengan Perusahaan Minyak Lepas Pantai Nasional China, bertujuan untuk mengekstraksi hidrokarbon melalui proyek Kingfisher-nya. Rencananya adalah menggunakan gas untuk memurnikan minyak, yang akan dikirim ke pelabuhan Tanga di Tanzania melalui pipa khusus yang sedang dibangun.


Keputusan investasi akhir untuk proyek Tilenga diumumkan di Entebbe pada 11 April pada sebuah upacara yang dihadiri oleh Presiden Uganda Yoweri Museveni, presiden baru Tanzania Samia Suluhu Hassan dan CEO Total Patrick Pouyanné.


Ironisnya, Total, setelah melarikan diri dari satu kelompok teroris yang berafiliasi dengan ISIS di Cabo Delgado, mungkin akan menghadapi kelompok lain di Uganda. Pemberontak di Cabo Delgado memiliki banyak alias, termasuk Ahlu Sunna Waljama’a (ASWJ), al-Shabaab, Islamic State Central Africa Province (ISCAP) dan terkadang tentunya dalam nomenklatur pemerintah Amerika Serikat (AS), yakni ISIS-Mozambik. 


Demikian pula, Allied Democratic Forces (ADF) yang meneror warga di timur Republik Demokratik Kongo telah dicirikan sebagai bagian dari ISCAP. Dan lagi-lagi dalam kamus Departemen Luar Negeri Amerika Serikat sebagai ISIS-DRC. ADF dimulai sekitar 1996 di Uganda utara dan diusir dari wilayah tersebut oleh aksi militer agresif di akhir tahun 2000-an. 


 





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *