Kiai Taufik mengajak agar menjadi buzzer yang baik dan berhati nurani

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Buzzer mungkin termasuk profesi yang memiliki penghasilan menjanjikan dalam beberapa tahun belakangan ini. Awalnya buzzer lumrah dilibatkan oleh perusahaan untuk promosi produk, namun citra buzzer menjadi negatif setelah masuk pada pusaran politik.


Ketika bersentuhan dengan politik, buzzer pun banyak menyebarkan berita bohong yang bahkan bisa memecah persatuan masyarakat Indonesia. Karena itu, tak heran jika buzzer dipandang buruk oleh masyarakat.


Namun, Wakil Katib Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DKI Jakarta, KH Taufik Damas, meyakini bawa masih ada buzzer baik yang tidak menyebarkan hoaks di media sosial. Dia pun meminta kepada buzzer tersebut untuk menyebarkan nilai-nilai toleransi di media sosial, sehingga persatuan tetap terjaga.


“Buzzer perlu menyebarkan nilai-nilai kebaikan seperti toleransi, karena yang menyebarkan sebaliknya banyak. Jadilah buzzer untuk kebaikan,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari dokumentasi Harian Republika, Senin (22/2). 


Persatuan dan kesatuan merupakan modal penting dalam kehidupan berbangsa dan negara. Namun, akhir-akhir ini isu yang dapat memecah belah umat banyak yang tersebar di media sosial. Karena itu, menurut Kiai Damas, buzzer perlu menyampaikan nilai-nilai kebaikan.


“Paling ideal buzzer itu menyebarkan nilai-nilai kebaikan secara umum agar hidup ini tenang, damai, saling menghormati, dan saling menghargai,” ucap alumni Pondok Pesantren Bahrul Ulum Jombang ini.


Kiai muda kelahiran Jakarta, 23 Januari 1974 ini menjelaskan, berita yang akan disebar buzzer tersebut harus bernilai positif dan sesuai dengan fakta seperti yang dilakukan para wartawan. Karena, menurut dia, ada berita yang positif tapi tidak sesuai dengan fakta. Begitupun sebaliknya, ada yang sesuai fakta tapi tidak positif.


“Jadi kembali lah kepada hati nurani bahwa media sosial itu bisa digunakan untuk kebaikan dan juga bisa digunakan untuk ketidakbaikan. Dan kalau kita orang beriman maka gunakanlah media sosial itu untuk kebaikan,” kata lulusan Aqidah dan Filsafat, Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Azhar Mesir ini.  


 





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *