Gerakan Sedekah Sampah diharapkan membangun gerakan partisipasi publik di masyarakat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Novrizal Tahar, berharap Gerakan Sedekah Sampah Indonesia (Gradasi) Berbasis Masjid diharapkan bisa menjadi snow ball atau ”bola salju” di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Gerakan Sedekah Sampah berbasis masjid ini rencananya akan sosialisasikan ke seluruh daerah di Indonesia.

Menurut Novrizal, gerakan ini telah diluncurkan oleh Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan Kemenko Kemaritiman dan Investasi, Nani Hendiarti, pada Jumat (30/4) pagi lalu. “Mudah-mudahan tentu ini menjadi snow ball yang sangat baik, sehingga bisa membangun gerakan-gerakan partisipasi publik yang sangat baik di masyarakat,” ujar Novrizal saat konferensi pers peluncuran Gradasi secara virtual.

Dia pun menjelaskan kondisi persampahan di Indonesia dan upaya penanganannya. Menurut dia, semua komponen bangsa Indonesia memiliki Key Performance Indicator (KPI) terkait sampah ini. Pertama, menurut dia, kapasitas pengelolaan sampah harus 100 persen pada 2025, dengan pengurangan 30 persen dan penanganan 70 persen.

“Kedua, bahwa kita punya KPI atau target yang sudah ditetapkan presiden dan juga sudah disampaikan ke dunia bahwa kita akan mengurangi sampah plastik ke laut pada tahun 2025 itu 70 persen,” ucapnya.

Dia bersyukur secara tren pengelonaan sampah di Indonesia kini telah mengalami peningkatan. Namun, menurut dia, masih diperlukan upaya-upaya revolusioner, termasuk revolusi kultur terkait sampah ini.

“Jadi kalau kita bisa maksimalkan lagi dengan berbgaai upaya, kita misalnya sudah punya Bank Sampah, nah kalau kita juga bisa memasukkan gerakan Sedekah Sampah ini menjadi gerakan sosial kultural yang memang berbasis dari pendekatan keagamaan, dan saya pikir ini juga mempuyai nilai yang berbeda. Karena orang puya amalan dengan bersedekah sampah,” katanya.  

Dengan adanya gerakan sedekah sampah berbasis masjid ini, tambah dia, juga akan mendorong masjid sebagai pusat perubahan peradaban dan akan mengedukasi masyarakat dalam pengelolaan sampah. Menurut dia, tentu hal ini akan maksimal jika setiap orang memilah sampah sejak dari sumbernya.

“Jadi, pertama edukasi yang harus dilakukan oleh masjid itu, kalau kita memang berbasis dari masjid, adalah mengedukasi semua jamaahnya bahwa memilah sampah itu harus menjadi kesadaran kolektif yang harus dilakukan,” jelas Novrizal





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *