Kiai Asad Syamsul Arifin menyiapkan langkah taktis saat NU keluar Masyumi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Jamiyah Nahdlatul Ulama (NU) didirikah Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari pada 16 Rajab 1344 Hijriyah atau bertepatan dengan 31 Januari 1926. Tahun ini, NU telah menapaki usianya yang ke-95 tahun, tepatnya pada 16 Rajab 1442 Hijriyah atau bertepatan dengan 28 Februari 2021.


Dalam perjalanan sejarah politik umat Islam Indonesia, NU merupakan salah satu satu organisasi yang pernah keluar dari partai Masyumi dan menjadi partai tersendiri. 


Sementara, banyak tokoh NU yang saat itu telah menjadi tokoh berpengaruh di Masyumi, di antaranya adalah tokoh ulama yang menjadi mediator berdirinya NU, yaitu KHR As’ad Syamsul Arifin.


Dikutip dari buku “KHR As’ad Syamsul Arifin: Riwayat Hidup dan Perjuangannya”, sebagai tokoh NU Kiai As’ad memang sempat agak serius dalam menghadapi kasus keluarnya NU dari Masyumi. 


Kiai As’ad pun pernah bertutur, keluarnya NU dari Masyumi waktu itu merupakan ujian paling berat. Sebab NU harus bisa membuktikan bahwa dirinya memang besar dan mampu berdiri sendiri. Karena itu, Kiai As’ad saat itu langsung melakukan mobilisasi massa untuk mendukung Partai NU. Mobilisasi massa ini dilakukan serius dan ditempuh dengan berbagai cara.


Di ataranya, Kiai As’ad mengkoordinasikan pelaksanaan tabligh atau pengajian umum, terutama di wilayah Kabupaten Situbondo dengan koordionator A. Hamin, dan Kabupaten Bondowoso dengan koordinator Socco Atmodjo.


Selain itu, Kiai As’ad juga menyelenggarakan pelatihan mubaligh atau juru dakwah dengan peserta kala itu sekitar 600 orang dari Keresidenan Besuki dan Madura. Pelatihan para dai tersebut dipusatkan di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo yang diasuh oleh Kiai As’ad sendiri.


Pelatihan tersebut juga sempat dihadiri Rais Aam PBNU KH Wahab Hasbullah dan Ketua Tanfidziyah PBNU KH Mohammad Dachlan. Sedangkan koordinator pelaksana latihan dipercayakan kepada tiga orang tokoh NU dari Situbondo dan Banyuwangi, yaitu Mohammad Saleh, Mohammad Anwar dan Muhtadi. Latihan ini, menurut penuturan tiga kiai tersebut, merupakan program PBNU setelah keluar dari Masyumi.   





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *