Little Amal akan berhenti di sekitar 70 kota sejak dimulai dari Turki-Suriah

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG — Boneka setinggi 3,5 meter yang dikenal dengan sebutan ‘Little Amal’ akan memulai perjalanan sejauh 8.000 kilometer pada 30 Maret 2021 mendatang dari Gaziantep di perbatasan Turki-Suriah menuju ke Manchester di Inggris. Little Amal akan berhenti di sekitar 70 kota kecil dan kota besar pada sepanjang rute perjalanannya.

Perjalanan yang dikenal sebagai ‘The Walk’ tersebut berasal dari drama Joe Murphy dan Joe Robertson ‘The Jungle’, berdasarkan kehidupan migran di kamp pengungsi di Calais, Prancis. Setelah sukses berjalan di West End London, kemudian Broadway, sutradara Stephen Daldry dan produser David Lan memutuskan untuk memfokuskan proyek pada Amal, seorang pengungsi berusia sembilan tahun yang merupakan salah satu karakter utama drama tersebut.

Boneka Little Amal diciptakan oleh Handspring Puppet Company di Afrika Selatan, dan Amir Nizar Zuabi ditunjuk sebagai direktur artistik ‘The Walk’. Little Amal nantinya akan ‘berjalan’ melalui Turki, Yunani, Italia, Swiss, Jerman, Belgia dan Prancis ditemani oleh 15 dalang, berinteraksi dengan komunitas lokal di sepanjang jalan. Perjalanan akan berakhir di Inggris pada 4 Juli 2021, di mana kedatangan Little Amal akan menandai dibukanya Festival Internasional Manchester.

“Saya secara inheren terhubung dengan ‘The Walk’ dan telah terlibat sejak awal, jadi mudah untuk mengetahui kemana saya ingin membawanya. Ambisi artistik itu unik, karena kami mengadakan acara partisipatif yang besar di kota-kota yang kami lewati,” kata Direktur Artistik ‘The Walk’ Zuabi, dikutip dari Arab News, Jumat (13/11).

Zuabi menuturkan, Little Amal merupakan karya seni dalam skala yang hampir tidak pernah terdengar dan terbilang berani. Kata dia, ada sesuatu yang sangat indah tentang komunitas yang berkumpul untuk menyambut, merayakan, atau memberdayakan pengungsi yang rentan, yang menurutnya terbukti jauh lebih tidak rentan saat bertemu dengan mereka.

“Bagaimana kami menerima anak-anak pengungsi, peluang yang kami tawarkan kepada mereka, akan berarti mereka bukan lagi pengungsi, mereka dapat menjadi apa pun yang mereka dorong. Siapa yang tahu dari mana datangnya kejeniusan atau ide hebat berikutnya? Mungkin dari Gaza, Shatila, atau salah satu kamp di Turki,” terangnya.

Dia melanjutkan, perjalanan Little Amal itu akan menjadi acara komunitas yang sangat menyenangkan. “Sebagai seseorang yang terlibat dalam seni, saya sangat percaya pada keindahan. Kecantikan adalah cara ketuhanan menunjukkan dirinya sendiri. Mungkin, di saat isolasi ini, kemampuan untuk membawa orang bersama-sama untuk bermimpi dengan proyek berskala ini adalah yang kita butuhkan,” ujarnya.

Little Amal adalah panutan yang untuk anak-anak, menarik, dan lucu. Dan ‘The Walk’, kata Zuabi tidak berfokus pada penderitaan tragis anak-anak pengungsi. Tetapi pada potensi mereka yang belum dimanfaatkan.





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *