Situs bersejarah pra Islam di Irak sebagiannya terancam punah

REPUBLIKA.CO.ID, BAGHDAD – Menara Al-Faruq di ujung barat Irak dibangun pada zaman pra-Islam. Menara ini merupakan salah satu monumen terpenting Irak yang sebelumnya digunakan untuk tujuan militer, seperti memantau pasukan musuh yang menyerang kota. Meski kuno dan diabaikan  otoritas terkait, landmark bersejarah ini terus bertahan. 


Menara Al-Faruq terletak di distrik arkeologi Hit, sebelah barat Al-Anbar, dan dinamai menurut nama khalifah Umar bin Khattab, yang membangun kembali dan merehabilitasi itu. 


“Menara itu juga digunakan untuk menerangi jalan bagi konvoi dari gurun, serta kapal yang menyeberangi sungai pada saat itu,” kata Inspektur Purbakala Distrik Hit, Nabil Moussa, dilansir dari kantor berita Shafaq, Rabu (28/4).


Dia menjelaskan, menara sangat terdampak karena pengabaian pemerintah berturut-turut, kurangnya pekerjaan pemeliharaan, pembangunan banyak jalan di dekatnya, dan pembukaan Cornish Hit Street. Menara ini tingginya 100 meter dan bisa dilihat dari mana saja di dalam Hit. Diameternya tiga meter, bentuknya seperti silinder.


“Menara Al-Faruq dan peninggalan serta situs arkeologi lainnya di Al-Anbar harus mendapat dukungan pemerintah, dan tim khusus harus mulai bekerja untuk memelihara menara dan peninggalan lainnya. situs di distrik,” kata dia Mossa.


Ada tiga Menara Al-Minaret di Al-Anbar. Pertama di Desa Jabba di Distrik Al-Baghdadi, dan yang kedua adalah Masjid Al-Faruq di distrik Haditha, dan yang terakhir adalah menara Al-Faruq di Hit, yang semuanya merupakan situs arkeologi dan warisan.


Direktur Barang Antik al-Anbar, Mohammed Jassim, menuturkan ada masalah yang menghambat pemeliharaan Menara Al-Faruq di Hit. Dia juga memaparkan, menara itu milik Sunni Endowment, dan pekerjaan pemeliharaan diusulkan atas endowment tersebut di bawah pengawasan General Authority for Antiquities and Heritage.


“Tetapi Wakaf Sunni menjawab bahwa memelihara menara membutuhkan uang dalam jumlah besar. Pembicaraan dengan Wakaf Sunni mengenai pemeliharaan menara telah berlangsung sejak 2011, tetapi hasilnya sedikit. Otoritas Umum untuk Benda Purbakala dan Warisan tidak memiliki alokasi dana untuk pemeliharaan di manapun di Irak,” tambahnya.


Sejarawan Irak, Seifeddine Islam, berharap meminta Wakaf Sunni untuk berkontribusi pada pemeliharaan situs arkeologi daripada membuang-buang uang dengan membangun masjid dengan biaya lebih dari 80 miliar dinar Irak di Al-Fallujah, yang berisi lebih dari 150 masjid.


“Distrik Hit terkenal dengan warisannya, apakah Menara Al-Faruq, Al-Nawa’eer, atau Kastil Hit, semua landmark ini diabaikan dan tidak dipertahankan selama bertahun-tahun. Mayoritas slogan di lembaga negara mengusung menara masjid ini, tetapi menjadi slogan tanpa pemeliharaan dan perhatian,” tuturnya.


Sementara itu, Menteri Kebudayaan, Pariwisata, dan Purbakala, Hassan Nadhim menyampaikan, semua situs arkeologi tunduk pada rencana Kementerian Kebudayaan dan Otoritas Purbakala dan Warisan untuk pemeliharaan dan rehabilitasi. 


Dia juga menambahkan, penghalang dimulainya pekerjaan pemeliharaan adalah hubungan dengan organisasi internasional yang mensponsori properti warisan dan barang antik. Ia mengatakan, kementerian memiliki rencana mendesak terkait Taq Kasra.


“Ada kontroversi tentang beberapa situs arkeologi di Irak. Namun, masih belum dimulai karena belum ada alokasi keuangan atau kesepakatan dengan organisasi internasional sejauh ini,” pungkas Nadhim.


Sumber: shafaq  


 


 





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *