Umat Islam Albania menyelamatkan Yahudi saat Perang Dunia II

REPUBLIKA.CO.ID, “Albania adalah satu-satunya negara di Eropa dimana jumlah Yahudi setelah perang berakhir lebih banyak ketimbang saat perang berkecamuk, ujar fotografer Amerika Serikat Norman Gershman, dalam pameran fotonya tentang upaya Muslim Albania melindungi mereka dari buruan Nazi, pada 2007 lalu.    


Menurut Gershman, Muslim Albania sangat besar jasanya dalam hal ini. Sebelum Perang Dunia Kedua, jumlah Yahudi di Albania hanya 200 orang, merupakan minoritas dari keseluruhan populasi yang berjumlah 800 ribu orang. Setelah perang usai, jumlah mereka hampir sepuluh kali lipatnya.


Ribuan pengungsi Yahudi itu datang dari berbagai negara di Eropa untuk bersembunyi. Keluarga-keluarga Muslimlah yang mengamankan mereka. Di zaman itu, langkah yang ditempuh Muslim Albania bukan tanpa risiko. Bila ketahuan, nyawa mereka sendiri taruhannya. Atau sesial-sialnya, mereka akan diperlakukan sama dengan Yahudi di kamp kerja paksa.


Menurut Gershman yang juga seorang Yahudi, King Zog yang memerintah Albania antara tahun 1928-1939 secara pribadi juga melakukan hal yang sama. Istana menyelamatkan keluarga Weizmann yang melarikan diri dari Jerman ke Albania tahun 1938 setelah kekuasaan Hitler makin mencorong.


Gershman melakukan riset di Albania selama empat tahun sebelum menggelar pameran bertajuk The Code of Besa itu. Ia mendatangi keluarga-keluarga Muslim Albania yang pernah menyembunyikan para Yahudi di rumahnya. Selain mengambil gambar atau mengumpulkan foto-foto lama, dia juga menuliskan bagaimana trik masing-masing keluarga untuk menyembunyikan mereka yang teraniaya itu.


Foto-foto hitam putih yang dipamerkan berasal dari keluarga-keluarga Yahudi yang menjalin persahabatan yang intens dengan keluarga Muslim Albania yang menyelamatkan mereka. Pameran foto ini adalah untuk menghargai kepahlawanan keluarga Muslim Albania, ujarnya.


Salah satu objek bidikan Gershman adalah Enver Alia Sheqer, yang keluarganya menyelamatkan Yeoshua Baruchowic yang mereka culik dari konvoi Nazi dan disembunyikan di rumah mereka selama tiga tahun. Yeoshua keluar dengan selamat dari rumah itu setelah perang berakhir, dan hingga kini kedua keluarga itu tetepa bersahabat.


Selama beberapa dekade, Baruchowic, ia kemudian berkarir sebagai dokter gigi di Meksiko, saling berkirim surat dengan Sheqer dan ayahnya yang meninggal tahun 2004 lalu. Mereka berdua saling memanggil kakak dan adik.


Dalam pameran itu, Sheqer dan Baruchowic dipertemukan. Sungguh menakjubkan. Ini adalah momen yang saya tunggu-tunggu seumur hidup saya, Baruchowic sambil berkaca-kaca memeluk erat Sheqer.


Menurut Sheqer, ayahnya berani mengambil risiko menyematkan Baruchowic karena dia adalah penganut Islam yang taat. Ayah Sheqer meyakini bahwa Muslim berkewajiban melindungi pihak yang teraniaya. Ayah percaya, menyelamatkan makhluk hidup yang teraniaya adalah jalan menuju surga, ujarnya.


Selain memegang nilai-nilai Islam, kata Sheqer, Muslim Albania juga memegang teguh besa. Itu adalah prinsip hidup seorang Albania, yaitu setia pada janji, ujarnya. Berislam adalah sebuah janji dengan Tuhan yang juga harus dijaga dengan mengamalkan ajaran-ajaran-Nya.


Hal itu dibenarkan Charge d’Affaires Albania di Israel, Qirjako Kureta. Menurut dia, prinsip besa dianut warga Albania selama berabad-abad. Besa adalah sebuah komitmen, yang berkaitan dengan keyakinan dan kepercayaan, ujarnya seperti dikutip Jerusalem Post.


Pameran itu diprakarsai Albania-Israel Friendship Association. Dalam acara itu, perwakilan Muslim Albania sebanyak 63 orang menerima Righteous Among the Nations. Gelar ini biasa diberikan pada warga non-Yahudi yang membantu Yahudi selama masa kekuasaan Nazi.


Menurut Gershman, Albania adalah contoh nyata bahwa stereotip Muslim yang berkembang di Barat sungguh sangat keliru. Mereka adalah manusia-manusia yang baik. Adalah gila menyebut semua Muslim adalah teroris,” ujarnya.   

sumber : Harian Republika





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *