Haedar Nashir menanggapi adanya museum sejarah Nabi Muhammad.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof KH Haedar Nashir mengatakan, Museum Internasional Sejarah Nabi Muhammad SAW dan Peradaban Islam dinilai sebagai tonggak sejarah Islam yang penting. Museum terlengkap dan terbesar ini akan dibangun di Ancol, Jakarta Barat.

Haedar menyebut, melalui museum ini tidak hanya menjadi titik pangkal masa lalu sejarah Islam di Indonesia. Namun, juga menjadi tempat belajar tentang bagaimana Islam kedepannya.

“Museum ini akan menjadi titik pangkal menyambung masa lampau Islam Indonesia yang maju, jaya dan moderat ke masa depan Islam Indonesia yang tentu akan menjadi bagian dari pusat keunggulan dunia,” kata Haedar kepada Republika di Grha Suara Muhammadiyah, Yogyakarta, Jumat (13/11).

Sebagai salah satu pembina museum, kata Haedar, akan menjadi pilar yang bertanggung jawab atas keberlangsungan museum tersebut. Sehingga, kemanfaatan dari museum ini terus dapat dirasakan hingga ke depan.

“Museum ini tidak bisa kalau sudah jadi lalu begitu saja. Kelangsunganya bagaimana umat memanfaatkan museum itu kan penting. kebetulan di Indonesia ini pemahaman tentang sejarah itu kurang, termasuk anak-anak muda saat ini,” ujarnya.

Peletakan batu pertama pembangunan museum ini sudah dilakukan pada Februari 2020 lalu. Pembangunannya sendiri bekerja sama dengan Liga Dunia Islam.

“Museum ini akan menjadi muruah sekaligus marwah umat Islam Indonesia. Melalui museum ini kita punya tonggak tentang masa lalu yang positif tentang Indonesia dan Islam Indonesia, dimana Islam Indonesia beragam, tapi membangun satu kesatuan dan lalu melahirkan Indonesia,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Syafruddin berharap museum ini nantinya membawa seluruh bangsa Indonesia bersatu. Pasalnya, melalui museum ini akan menjawab secara fakta bagaimana kehidupan dan tingkah laku Nabi Muhammad SAW.

“Museum Rasulullah ini di tengah-tengah kita bisa membawa seluruh anak bangsa Indonesia bersatu dan kompak. Tidak ada lagi terjadi diksi atau fiksi-fiksi yang berbeda satu sama lain tentang keumatan, khususnya pandangan-pandangan kita tentang Islam rahmatan lil ‘alamin,” katanya.





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *