Membaca tidak selamanya tertulis di dalam buku.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Diyan Faturahman, Kepala Asrama Putra Pesantren Mahasiswa KH. Ahmad Dahlan Yogyakarta (PERSADA)/Anggota PC Pemuda Muhammadiyah Mrebet, Purbalingga


الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ . أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه . اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. فَيَا عِبَادَاللهُ اُوصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَاالله . اِتَّقُواللهَ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْن . أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ . يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا


Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita hidayah; dan kita sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk jika Allah tidak memberi petunjuk. Sesungguhnya, telah datang para Rasul membawa kebenaran. Diserukan kepada mereka, “ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan amalan yang dahulu kamu kerjakan.”


Jamaah Jumat Rahimakulullah,


Wahyu pertama yang Allah SWT turunkan ialah perintah membaca, yaitu membaca dengan menyebut nama-Nya yang telah menciptakan, sebagaimana dalam QS. Al-‘Alaq: 1-5. Namun, menariknya, objek yang diperintahkan untuk dibaca dalam ayat itu tidak disebutkan secara jelas sehingga hal tersebut memiliki makna bahwa membaca tidak selamanya tertulis di dalam buku.


Bahkan saat kita memandang ke arah langit, terbentang luas semesta dan cakrawala, di sana kita melihat bulan bersinar, bintang berkedip, merasakan sejuknya angin, awan berarak, burung-burung beterbangan, bahkan rintik hujan yang turun.


Dengan itu, secara tidak sadar sesungguhnya kitapun sedang membaca ayat kauniyah-Nya. Bagi orang beriman, sudah sepantasnya jiwa menjadi lapang seiring dengan mengucapkan,


رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ …


“… Duhai Tuhan kami, yang Maha Mengatur, Mengurus dan Memenuhi segala kebutuhan makhluk-Nya, tiadalah semua yang telah Engkau ciptakan ini hanyalah sia-sia belaka. Maha Suci Engkau, maka hindarkan dan lindungilah kami dari Azab Neraka”. (QS. Ali-‘Imran: 191).


 

sumber : Suara Muhammadiyah





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *