Program Nusantara Berqurban secara garis besar menyasar wilayah 3T.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Meski di tengah pandemik dan bertepatan dengan adanya PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat), antusias masyarakat untuk berqurban tidak surut. Ibadah yang merupakan ibadah ritual dan ibadah sosial ini juga dapat diniatkan untuk membantu mereka yang kurang beruntung dalam memperoleh salah satu nikmat Allah SWT, terutama di tengah kekalutan masyarakat dalam menghadapi pandemik ini.


Di tengah melorotnya stabilitas perekonomian dunia akibat pandemik, NU Care-LAZISNU masih konsisten dengan tema ‘Solidaritas Tanpa Batas’ seperti di tahun sebelumnya. Tema ini salah satunya direalisasikan dalam Program Nusantara Berqurban, yang juga sebagai bentuk ajakan kepada masyarakat untuk #BangkitBersama membantu sesama dengan tanpa memandang ras, suku, negara dan golongan apapun.


Ketua NU Care-LAZISNU, M Wahib Emha, menuturkan bahwa program Nusantara Berqurban secara garis besar menyasar wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar), wilayah zona merah Covid-19, wilayah terdampak bencana, hingga masyarakat terdampak konflik di Palestina yang mengunngsi di Kamp Talbiyah, di wilayah Amman.


“Idul qurban adalah momentum mendekatkan diri kepada Allah dengan turut berbagi dan peduli. Apalagi saat negara mengalami persoalan genting akibat pandemik, yang juga berdampak pada kehidupan masyarakat. Untuk itu, kami berupaya hadir menemani masyarakat, salah satu caranya dengan memberikan daging qurban kepada para duafa, masyarakat rentan, difabel, warga terdampak bencana, pasien isolasi mandiri, petugas pemulasaraan dan penggali kubur jenazah Covid-19, tenaga kesehatan, hingga masyarakat terdampak konflik di Palestina. Semoga Program Nusantara Berqurban menjadi pelipur lara dan membantu bagi masyarakat yang menerima,” papar Wahib di Jakarta, Kamis (22/7).





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *