Gaya hidup halal jadi diperhatikan saat pandemi.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Ketua Indonesia Halal Lifestyle Centre (IHLC), Sapta Nirwandar, mengatakan, pandemi Covid-19 menyadarkan masyarakat atas manfaat dan pentingnya gaya hidup halal. Anjuran-anjuran dalam protokol kesehatan selama pandemi pun sesuai prinsip dalam gaya hidup halal yang selama ini terus disosialisasikan.


“Halal itu buat seluruh dunia, rahmatan lil ‘alamin dan bahkan bisa diterima semua kalangan,” kata Sapta dalam Seminar Peran Perbankan Syariah dan Momentum Kebangkitan Industri Halal Dunia dalam peringatan Hari Pers Nasional yang digelar secara virtual, Ahad (7/2).


Ia menuturkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah menyarankan masyarakat untuk berhenti memakan makanan yang terbuat dari hewan buas, menghindari alkohol dan rokok, serta menjaga makanan yang aman.


“Kalau dikaji, benar juga gaya hidup halal itu, belum lagi untuk pakaian, semuanya ada yang menjadi bagian dari siklus kehidupan,” kata Sapta.


Hal itu tentunya berdampak pada industri produk halal di Indonesia. Ia mengatakan, umat Islam dianjurkan selalu bersih dan sehat. Saat ini, disaat pandemi Covid-19 masih cukup menjadi ancaman, gaya hidup itu selalu dikampanyekan.


Situasi tersebut tentu akan meningkatkan permintaan kepada produk-produk halal yang telah dijamin kebersihannya. “Termasuk shampo, pembersih rumah,” ujarnya.


Lebih lanjut, berkaitan dengan imun, makanan halal saat ini juga mengalami tren kenaikan. Makanan halal, kata Sapta, faktanya dapat dikemas dengan berbagai cara bahkan dalam makanan beku. Hal itu kini mulai dikembangkan oleh anak-anak muda yang berinovasi pada produk makanan halal.


Wisata halal, juga semakin dikenal masyarakat. Ia menekankan, wisata halal bukan menghalalkan destinasi, tapi berupa tambahan jasa di tempat destinasi itu yang sesuai dengan prinsip halal.


“Jadi dalam fenomena ini (Covid-19) membuat susat, tapi ada juga kesempatan-kesempatan yang diberikan ke kita,” katanya.


Direktur Eksekutif Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah, Ventje Rahardjo, menambahkan, Indonesia memiliki potensi besar untuk berpartisipasi dalam produk halal. Namun saat ini, cukup banyak masyarakat Indonesia yang menggunakan produk-produk halal dari luar negeri.


“Indonesia perlu menjadi produsen produk halal yang dominan dan terkemuka di dunia melalui upaya membangun ekosistem industri,” ujarnya.


 


 


 


 





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *