Lembaga filantropi harus terus memperbarui model pengelolaan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — CEO Rumah Zakat, Nur Efendi, menyadari masih ada banyak hal yang perlu terus dikembangkan dalam filantropi Islam. Misalnya terkait penyerapan yang diakui masih tergolong minim. Padahal dia menambahkan peluang pada aspek penyerapan ini masih terbuka lebar.

“Karena masih banyak yang langsung ke orang yang membutuhkan dan tidak melalui lembaga filantropi dan ini peran kita untuk selalu mengedukasi masyarakat. Masyarakat kita yang dermawan ini juga sebetulnya menjadi peluang,” ucapnya kepada Republika, Ahad (21/2).

Untuk itu, Nur mengungkapkan, lembaga filantropi harus terus memperbarui model pengelolaan. Misalnya, layanan filantropi harus dibuat semudah mungkin bagi masyarakat agar penghimpunan berjalan optimal. Dia mengakui, layanan filantropi saat ini belum merata. Sehingga perlu berbagai inovasi untuk memudahkan masyarakat dalam berdonasi.

“Memeratakan layanan filantropi akan menjadi peluang, karena sekarang ini masih belum merata. Maka lembaga-lembaga filantropi saat ini terus menonjolkan layanannya melalui berbagai cara seperti e-commerce, e-wallet dan juga perbankan. Ini upaya yang harus terus dioptimalkan di era digital,” katanya.

Menurut Nur, pendistribusian juga tak boleh luput dari aspek yang perlu terus dimaksimalkan. Para mustahik perlu diberikan kemudahan dalam mengakses manfaat dari program yang dibentuk oleh lembaga filantropi. “Sehingga bisa memberikan gambaran bahwa filantropi Islam itu memberi dampak yang signifikan bagi masyarakat,” tuturnya.

Filantropi Islam di Indonesia secara praktis, jelas Nur, telah dilakukan jauh sebelum kemerdekaan. Awalnya dilaksanakan secara perorangan untuk membantu sesama, lalu membentuk komunitas seperti organisasi kemasyarakatan (ormas). “Ormas-ormas ini, belum zaman kemerdekaan, sudah melakukan praktis-praktis filantropi Islam,” katanya.

Untuk saat ini, Nur melihat filantropi Islam telah berkembang melalui berbagai inovasi. Lembaga-lembaga filantropi Islam membuat inovasi dalam pengelolaan yang semakin profesional sehingga tumbuh kepercayaan masyarakat. “Apalagi secara dampak, itu betul-betul mampu dirasakan dan dilihat langsung manfaatnya,” ujarnya.

Di sisi lain, Nur mengatakan, Indonesia memiliki budaya gotong-royong sehingga ini menguatkan budaya berbagi. “Di satu sisi masyarakat menjadi dermawan, yang didukung inovasi-inovasi atas pengeloalan filantropi yang terus profesional sehingga filantropi di Indonesia semakin baik dan tumbuh di Indonesia,” ucapnya.





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *