REPUBLIKA.CO.ID,RAJYA SABHA — Pemimpin oposisi India di Rajya Sabha, Ghulam Nabi Azad, melepaskan jabatannya dengan pidato yang menyentuh hati yang menarik kesejajaran antara kehidupan Muslim di India dan Pakistan. Dalam pidato perpisahannya, politisi dari partai Indian National Congress itu mengatakan bahwa ia bangga menjadi seorang Muslim Hindustan.

Pidato ini disampaikannya di hadapan Perdana Menteri India Narendra Modi di Rajya Sabha pada Selasa (9/2). Ia menegaskan bahwa India tidak ternoda oleh praktik-praktik jahat yang lazim di negara-negara seperti Pakistan.

“Jika ada Muslim di dunia yang harus bangga, itu haruslah Muslim Hindustan. Saya termasuk orang yang belum pernah ke Pakistan, tapi ketika saya membaca tentang kejahatan yang ada dalam masyarakat Pakistan, saya pikir Muslim Hindustan harus bangga,” kata Azad dalam penyampaiannya setelah pidato Modi, dilansir di New Indian Express, Rabu (10/2).

Dalam pidato perpisahan tersebut, Nabi Azad juga mengucapkan terima kasih kepada Modi dan anggota parlemen lainnya. Ia menceritakan perjalanan politiknya dari Jammu dan Kashmir ke New Delhi. Azad mengatakan, Modi tidak pernah mengambil kata-katanya di Majelis Tinggi secara pribadi dan memisahkan pribadi dari politik.

“Ada kalanya kami bertengkar secara verbal. Ada kalanya kami bertengkar secara verbal. Tetapi Anda (PM Modi) tidak pernah mengambil kata-kata saya secara pribadi,” kata Veteran Kongres itu sembari menekankan bahwa negara dijalankan dengan kolaborasi, bukan perkelahian.

Modi dalam pidato penghormatannya juga mengucapkan selamat tinggal kepada Nabi Azad, yang masa jabatannya saat ini berakhir pada 15 Februari. Sembari berkaca-kaca, pidato Modi diselingi dengan banyak jeda panjang saat dia mengenang hubungannya yang lama dengan Azad, yang ia gambarkan sebagai teman sejatinya.

“Karyanya akan menginspirasi generasi anggota parlemen yang akan datang. Jabatan datang, jabatan tinggi datang, kekuasaan datang, tetapi seseorang harus belajar dari Ghulam Nabi Azadji bagaimana menanganinya,” kata Modi.

Modi lantas Mengingat serangan teror tahun 2007 di Kashmir, di mana sebuah granat dilemparkan ke sebuah bus yang membawa para peziarah Gujarat.

“Nabiji sangat khawatir jika anggota keluarganya menjadi korban. Dia adalah orang pertama yang menelepon saya. Selama panggilan itu, dia terus menangis,” kata Modi.

Modi juga mengatakan bahwa dia akan selalu mengharapkan Azad untuk berbagi masukan dengannya. 





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *