KH Hasyim Asyari menulis Risalah Aswaja menyinggung pentingnya persatuan

REPUBLIKA.CO.ID, Belum lama ini ini, Bahtsul Masail Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta menggelar acara bedah buku karya Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari.


Buku yang dikaji dalam kesempatan itu berjudul Risalah Ahl Sunnah wa al- Jamaah atau Risalah Aswaja. KH Mukti Ali Qusyairi selaku Ketua Lembaga tersebut menjelaskan, pengkajian atas legasi intelektual sang pendiri NU penting dilakukan. Dengan demikian, harapannya generasi kini dapat memetik hikmah dan pelajaran dari pemikiran para pendahulunya.


Dalam karyanya itu, Mbah Hasyim juga turut mengobarkan semangat persaudaraan sesama Muslimin (ukhuwah Islamiyah). Kiai Mukti Ali mengingatkan, kitab tersebut ditulis pada masa kolonialisme. Pada waktu itu, kakek presiden keempat RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu menginginkan agar Muslimin jangan terpecah belah. Sebab, ada musuh bersama yang harus dilawan, yakni penjajahan.


Kalau orang membaca secara jeli, dalam kitab ini juga ada pesan-pesan persatuan. “Jadi, meskipun misalnya NU sendiri kala itu kerap diposisikan sebagai kelompok yang dituduh sebagai melakukan tahayul, bidah, dan khurafat atau (disingkat) TBC, tetapi Mbah Hasyim tetap mengkritik para penuduh itu secara santun. Sebab, sama-sama umat Islam,” kata kiai kelahiran Cirebon, Jawa Barat, itu beberapa waktu lalu.


Secara garis besar, Risalah Aswaja merupakan jawaban Mbah Hasyim terhadap kelompok-kelompok yang menyerangpaham Aswaja. Kiai Mukti menjelaskan, sasaran utama sang mahaguru (hadratussyekh) itu adalah Gerakan Wahabi yang mulai mengemuka di Jazirah Arab pada 1920-an atau selepas runtuhnya Kekhalifahan Turki Utsmaniyah. Dan, Wahabi pun tersebar ke pelbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia.


Bagaimanapun, Mbah Hasyim dalam menangkal serangan para pengkritik Aswaja tetap mengedepankan prinsip ukhuwah. Baginya, perbedaan-perbedaan yang nonprinsipil tidak boleh menguras habis energi umat Islam. Seharusnya energi yang besar itu tercurah untuk bersama-sama membangun kekuatan, perjuangan menuju kemerdekaan bangsa Indonesia.


Mbah Hasyim melihat bahwa persatuan adalah prioritas utama untuk melawan penjajah. Makanya, Mbah Hasyim akhirnya juga mengeluarkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Itulah seruan untuk menyatukan umat Islam di seluruh Indonesia dalam mempertahankan kedaulatan negeri,ujar pria yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, itu.


“Nah, sekarang ini kita punya musuh bersama. Namanya, Covid-19. Mengikuti semangat Mbah Hasyim, kita pun harus bersatu padu agar Indonesia bisa bebas dari wabah ini,” katanya.  

sumber : Harian Republika





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *