Perabdan islam jembatan Renaissance.

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh: Jaya Suprana, Filsuf, Budayawan, Penggagas Rekor MURI, Pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan.  


 


Akibat Indonesia bekas jajahan Belanda maka wajar apabila pengajaran sejarah dunia di Indonesia mewarisi apa yang diajarkan oleh Belanda tentang sejarah dunia. 


EROPASENTRIS


Akibat kurikulum sejarah bersifat Eropasentris,  saya lebih mengenal para tokoh sejarah dunia berasal dari Eropa seperti Napoleon dan Katharina Agung ketimbang para tokoh berasal dari Asia seperti Ashoka atau Ching I Sao. 


Maka wajar pula bahwa saya diajarkan oleh guru sejarah dunia yang orang Indonesia tetapi didikan Belanda tentang peradaban Yunani dan Romawi kuno disusul oleh Abad Pertengahan di Eropa yang langsung loncat ke jaman Renaissance sebagai masa kebangkitan peradaban Eropa.


Akibat guru sejarah dunia saya didikan Belanda maka beliau tidak diajarkan maka juga tidak mengajarkan kepada saya tentang masa keemasan peradaban Islam yang menjembatani peradaban Abad Pertengahan dengan Era Renaissance.


Saya juga tidak diajarkan tentang masa puncak peradaban di Spanyol yang mewariskan mahakarya arsitektur Islam seperti Al Hambra di Granada dan Masjid Agung Mezquita di Cordoba mau pun seni musik Spanyol yang menggunakan sistem sapta nada Arab.


Baru ketika saya di Eropa dan mengunjungi perpustakaan perguruan tinggi di Jerman demi mempelajari buku-buku tentang Masa Keemasan Islam di Persia dan Andalusia saya tersadar bahwa Bagdad dan Cordoba merupakan pusat kebudayaan Islam.


Peradaban Islam ini telah melahirkan para maha-cendekiawan, mahamatematikawan, mahaastronomi, mahasastrawan, mahabudayawan serta mahapemikir yang secara langsung mempengaruhi peradaban Eropa melalui era Renaissance. 


 





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *