Menjelang satu abad usianya ini, NU dinilai telah berperan besar dalam menyatukan Islam dan nasionalisme, serta menyebarkan paham Aswaja.  Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof KH Said Aqil Siroj mengatakan, KH Hasyim Asy’ari sangat berjasa dalam menyatukan antara Islam dan nasionalisme, sehingga Indonesia bisa tetap berdiri meskipun berbeda agama, suku, dan bahasa.  


“Sudah tidak ada sekat-sekat yang mememisahkan antara satu dengan yang lain. Semua sadar bahwa negara ini harus kita jaga, kita kawal. Itu semuanya antara lain berkat jasa besar Mbah Hasyim Asy’ari,” ujar Kiai Said saat ditemui Republika di Kantor PBNU Jakarta Pusat dengan protokol kesehatan yang ketat, Senin (25/1).


Kiai Said menjelaskan, ketika umat Islam di Timur Tengah sedang bingung, konsep nasionalisme justru datang dari Ernest Renan, penulis buku What is a Nation?. Kemudian, konsep nasionalisme tersebut diambil oleh seorang Nasionalis asal Suriah yang beragama Kristen Ortodoks, Michel Aflaq.


Menurut Kiai Said, Michel Aflaq membangun nasionalisme untuk melawan penjajah. Namun, umat Islam bingung apakah untuk melawan penjajah akan menggunakan konsep yang datang dari Barat tersebut atau tidak. Sedangkan konsep khilafah waktu itu sudah tidak berdaya apa-apa.


“Sementara, di kita sudah tidak bingung karena KH Hasyim Asy’ari sudah mengatakan hubbul wathon minal iman. Nasionalisme bagian dari iman,” ucap Kiai Said.


Menurut Kiai Said, gagasan Kiai Hasyim Asy’ari tersebut sangat luar biasa dan tidak boleh dianggap sepele. Karena, Kiai Hasyim Asy’ari mampu mengharmoniskan antara agama dan politik kebangsaan. “Jadi teologi yang dari langit dengan politik yang bersifat ijtihadiyah menjadi harmonis. Anda beragama harus nasionalis atau cinta tanah air, dan jika Anda nasionalis harus beragama. Itu luar biasa,” kata Kiai Said.


Alumni S3 University of Umm Al-Qura ini menjelaskan, di Timur Tengah Michel Aflaq kemudian mendirikan Partai Baath. Partai tersebut kemudian banyak mengkader para pemuda Arab hingga lahirlah pemimpin-peimpin nasionalis, sosialis, dan sekuler.


 





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *