Santri bergejala atau pengajar yang berusia di atas 50 tahun ditempatkan di RS

REPUBLIKA.CO.ID,TASIKMALAYA — Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya telah menerima hasil swab PCR yang dilakukan kepada ratusan santri dan pengajar dari salah satu pesantren di wilayah Benda, Kecamatan Cipedes. Dari total 832 sampel swab yang diperiksa di Labkesda Jawa Barat (Jabar), 45 persen hasilnya positif Covid-19.


Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Asep Hendra mengatakan, munculnya kasus di lingkungan pesantren itu berawal dari diketahuinya salah satu santri yang kehilangan indra penciuman. Setelah itu, dilakukan tes swab kepada 16 santri di pesantren itu. Hasilnya tiga orang dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19. 


Lantaran banyak santri yang bergejala mengarah Covid-19, Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya melakukan tes swab massal di pesantren itu pada 8 Februari. “Hari Minggu (14/2) kemarin keluar hasilnya. Sebanyak 375 orang hasilnya positif atau 45 persen dari yang diswab, dan 55 persennya atau 457 orang negatif,” kata dia, Senin (15/2).


Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, dari total yang terkonfirmasi positif, 154 orang di antaranya adalah santri putra, 171 santri putri, dan 50 orang pengajar. Saat ini, dinas kesehatan masih memeriksa kondisi para pasien terkonfirmasi positif tersebut, sehingga dapat dipilah penanganannya.


Asep mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan beberapa tempat isolasi untuk para santri dan pengajar yang terkonfirmasi positif itu. Tempat itu di antaranya adalah Hotel Crown, Rumah Sakit Dewi Sartika, dan lingkungan pesantren sendiri. 

Ia menjelaskan, di Hotel Crown terdapat sekitar 90 tempat tidur yang dapat digunakan untuk isolasi santri putri. Sementara di Rumah Sakit Dewi Sartika terdapat 50 tempat tidur untuk santri putra. 

 

Asep menambahkan, untuk santri bergejala atau pengajar yang sudah berusia di atas 50 tahun akan ditempatkan di RSUD dr Soekardjo. Setidaknya, terdapat 15 tempat tidur di RSUD dr Soekardjo yang dapat digunakan untuk menampung pasien positif dari klaster pesantren tersebut.”Hari ini kita akan evakuasi santri untuk diisolasi di Hotel Crown dan Rumah Sakit Dewi Sartika,” kata dia.

 

Ihwal penggunaan Rumah Sakit Dewi Sartika, Asep menjelaskan, statusnya saat ini masih sebagai tempat isolasi terpusat milik pemerintah. Bukan rumah sakit darurat Covid-19. Karenanya, Rumah Sakit Dewi Sartika belum dapat digunakan untuk isolasi pasien dengan gejala. 

 

Ia mengatakan, pihaknya telah menempuh berbagai cara untuk menjadikan Rumah Sakit Dewi Sartika sebagai rumah sakit darurat. Namun, hingga saat ini masih ada syarat yang belum terpenuhi. “Rumah sakit darurat itu tahapannya masih panjang, jadi kita gunakan yang ada dulu,” kata dia.

 

Sementara para santri positif yang tak dievakuasi ke tempat isolasi terpusat milik pemerintah akan tetap tinggal di lingkungan pesantren. Para santri itu tentu akan dipisahkan dengan yang negatif. Satu kamar isolasi nantinya hanya diisi maksimal 4-5 santri yang positif. “Sisanya yang negatif akan dipulangkan besok secara bertahap. Jadi nanti potensi berkerumunnya rendah,” kata dia.

 

Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Tasikmalaya, Muhammad Yusuf mengatakan, kegiatan di pesantren tersebut akan dihentikan. Tak boleh ada aktivitas keluar masuk secara bebas ke lingkungan pesantren tersebut. “Jadi kita lockdown pesantren itu tak keluar masuk. Kita akan berikan kebutuhan selama karantina mikro,” kata dia.

 





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *