Yordania kecam Israel soal Masjid Al Aqsa.

REPUBLIKA.CO.ID,AMMAN — Kementerian Luar Negeri Yordania, mengecam pelanggaran Israel yang terus berlanjut terhadap kesucian Masjid Al-Aqsa di Yerusalem. Pelanggaran terbaru yaitu Israel memungkinkan pemukim Israel untuk memiliki lebih banyak waktu untuk berada di tempat situs suci tersebut, salah satu tempat suci umat Islam di dunia, seperti dilansir di Wafa, Ahad (15/11).

Juru bicara Kemenlu Yordania, Daifallah al-Fayez, mengatakan, mengizinkan masuknya kaum fanatik Israel ke kompleks suci adalah mengabaikan status quo sejarah dan hukum. Hal ini memberi Yordania hak tunggal untuk menjalankan urusan kompleks dan mengatur sholat Muslim.

Dia menuntut Israel untuk menghormati sejarah dan status hukum quo di Masjid Al-Aqsa dan semua kompleks berdinding 144-dunum, yang merupakan tempat suci murni Islam.

Dia juga menekankan, departemen Wakaf Islam, yang merupakan departemen pemerintah Yordania, adalah satu-satunya otoritas yang bertanggung jawab untuk itu dan untuk mengawasi siapa yang memasukinya.

Al-Fayez meminta komunitas internasional untuk menekan pendudukan Israel untuk mengakhiri kebijakan provokatifnya di Yerusalem dan situs-situs suci di kota itu.

Pada awal November ini, sebanyak 72 pemukim menyerbu Masjid Al-Aqsa pada Senin (9/11) waktu setempat. Penyerbuan ini dilakukan melalui Gerbang Al-Mughrabi bersama para polisi pendudukan Israel yang melakukan keamanan secara ketat.

Para pemukim itu berkeliling di sekitar masjid secara provokatif dan melakukan ritual Talmud di area alun-alun. Lalu, mereka mulai meninggalkan kawasan itu melalui pintu Al-Silsila, menurut laporan Gulf Times melansir dari kantor berita Palestina, Selasa (10/11).

Selain itu, kelompok pemukim tersebut juga mulai membangun pos permukiman baru di tanah Ras al-Tin yang terletak di sebelah timur Ramallah di Tepi Barat yang diduduki. Seorang saksi mata pun menyaksikan langkah pembangunan permukiman.

Saksi mata melaporkan, para pemukim mulai meratakan dan meletakkan beberapa tenda. Mereka melakukan hal itu sebagai bentuk persiapan untuk pendirian pos terdepan permukiman. ‘Ras al Tin’ sendiri adalah sebuah komunitas pastoral di mana terdapat sebuah sekolah dasar yang menghadapi ancaman pembongkaran oleh otoritas pendudukan.

 





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *