Sejarah relasi Aceh-Turki

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Nia Deliana, Kandidat Doktor Sejarah asal Aceh, Tinggal di Turki.


Ada banyak kajian tentang hubungan Aceh dan Turki. Tapi sedikit yang menonjolkan faktor geo-politik dan budaya bahasa di Semenanjung Melayu bagi pertumbuhan hubungan ini. Melayu sebagai ras tidak dikenal sebelum abad ke-19. Artinya konstruksi Melayu sebagai identitas kesukuan baru dibentuk pada era kolonial. 


Makna lainnya juga berarti bahwa bukan jati diri kesukuan atau batas negeri yang mampu menerobos pencapaian manusia di Semenanjung Melayu dan Indonesia, melainkan persilangan.    


Sebagai Melayukah?


Konstruksi identitas berbangsa dan bernegara yang dianut pada abad ke-20 melanjutkan perdebatan soal melayu atau tidakkah Aceh sebagaimana persoalan Melayu atau tidakkah Jawa, sama halnya dengan persoalan seindonesia apakah Malaysia. Perdebatan yang berakhir dengan menentukan pihak mana yang berkelebihan.  


Pada hakikatnya, dalam faktor Aceh khususnya dan Indonesia umumnya, ada jalinan saling ketertarikan, ikatan saling berbagi pengaruh dalam membentuk dan mengembangkan identitas Melayu di kemasyarakatan Nusantara. Jadi, Kalau Aceh ingin dikatakan Melayu, betul. Ada identitas Melayu diantara kita. Beberapa fakta sejarah tidak bisa dipungkiri. Seperti contohnya ketika Aceh disebut sebagai pusat perputaran roda intelektual melayu abad ke 16-17, bahasa Melayu adalah salah satu faktor yang menggerakkan roda tersebut, meskipun Aceh disebut-sebut sebagai peletak pondasi awal bahasa Melayu sebagai bahasa berperadaban dan berpengetahuan.


Geopolitik dan Kompas Ilmu


Ada beberapa sebab yang membuat Aceh lebih menonjol dahulunya di Nusantara. Faktor yang pertama adalah faktor fisik alam seperti letak geografi maritim yang strategis, kondisi iklim, sumber daya alam, dan mata pencaharian yang berpusat pada produktifitas pesisiran yang menyebabkan ketergantungan pada kontak dengan pihak luar.  


Faktor pertama ini menuntun pada faktor selanjutnya yaitu kelenturan hukum Islam yang mengizinkan universalitas dagang antar-samudra, inklusifitas pengetahuan keagamaan, dan rangkulan pada segala perbedaan, setidaknya hingga akhir abad ke-18. 


Faktor selanjutnya adalah imbas dari peristiwa luar Aceh yang mempengaruhi peran geopolitik misalnya Portugis dan kejatuhan Malaka tahun 1511 dan dampaknya pada rute perdagangan global. Sebelumnya Malaka sebagai antrepot, beralih ke Pasai dan Aceh yang kemudian menjadikannya rute utama perdagangan di Samudra Hindia dan Mediterania. Perubahan geo-politik ini juga yang menyebabkan Aceh melakukan expansi melawan gospel Portugis. Kedah, Perak, dan Pahang kemudian memilih bersekutu dengan Aceh. Johor juga sempat menerima aliansi meskipun hanya dalam waktu singkat. Persekutuan ini pada abad ke depannya berperan penting dalam kemajuan Aceh sebagai pusat ekonomi dan pengetahuan. 


Ini juga dibarengi dengan meningkatnya produktifitas keilmuwan melahirkan ulama-ulama yang karya-karya Melayunya mendominasi kompas ilmu pengetahuan Islam di Asia Tenggara dan masih banyak dipakai dalam pondok-pondok dan madrasah di Nusantara setidaknya hingga abad ke 20. 


 





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *