650 bangunan peninggalan sejarah terdampak ledakan Beirut pada Agustus lalu

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pekan lalu, hujan deras turun di Beirut, menandakan masuknya musim dingin. Air pun tak terhindarkan memasuki rumah-rumah yang rusak akibat ledakan besar pada 4 Agustus 2020 lalu.

Salah satu pengelola rumah di kawasan peninggalan sejarah Mar Mikhael, Reina Sarkis kian meratapi nasibnya saat hujan deras menyapu puing rumah yang sudah ia kelola selama 12 tahun. Saat terjadi ledakan, atap rumahnya hancur, dan tangga-tangga di dalam rumahnya juga ambruk.

“Saya sudah ke sana kemari mencari bantuan, tapi tak ada sedikit terpal pun melindungi tempat kami tinggal,” ujarnya sebagaimana dikutip dari Al-Arabiya.

Tiga bulan ini merupakan hari-hari yang berat untuk organisasi nonprofit sejarah dan pemerintah Lebanon dalam mengamankan bangunan-bangunan di kawasan peninggalan sejarah seperti Mar Mikhael pascaledakan. Dengan sumber daya yang serba terbatas, tidak semua properti peninggalan sejarah bisa diperbaiki.

Dirjen Barang Antik Lebanon memprediksi sekitar 650 bangunan peninggalan sejarah terdampak ledakan. 100 di antaranya membutuhkan penanganan segera karena memiliki struktur yang rapuh.

Reina Sarkis mengatakan tidak akan mampu memperbaiki rumah peninggalan sejarah itu sendirian. “Dibutuhkan sekitar satu juta dolar untuk gedung itu. Saya bahkan tidak dapat memperbaiki apartemen saya sendiri sebelum sisa bangunan diperbaiki,” ujar Sarkis.

Sarkis mengatakan juga tidak punya waktu untuk memenuhi semua aturan yang dibuat oleh pemerintah dalam memperbaiki rumah peninggalan sejarah, misalnya jangan menggunakan semen, menggunakan sesuatu yang lain, atau hal-hal harus diperbaiki dengan cara tertentu. Padahal banyak pengelola rumah peninggalan sejarah itu yang membutuhkan tempat tinggal segera.

“Orang-orang tunawisma. Saya harus pindah ke kediaman saya yang lain di Jounieh, tetapi tidak semua orang memiliki pilihan ini,” kata dia.

Semua restorasi rumah warisan sedang dilakukan oleh LSM dan kelompok relawan seperti Beirut Heritage Initiative (BHI), berusaha melakukan pekerjaan yang telah diabaikan negara. Meskipun independen secara finansial dari pemerintah, setiap pekerjaan yang dilakukan harus didokumentasikan dan disetujui oleh DGA, untuk memenuhi standar restorasi yang benar.

“Air adalah hal paling berbahaya untuk sebuah bangunan,” Grace Rihan Hanna, pendiri Beirut Built Heritage Rescue 2020, yang merupakan bagian dari BHI, kepada Al Arabiya English.

“Rumah peninggalan sejaeha ini semuanya terbuat dari pondasi kayu dan atap, jadi air akan menghancurkannya dua kali lebih cepat. Untuk melakukan pekerjaan itu kami butuh uang, dan tidak ada,” tambahnya.

“Kami berhasil menutupi 80 dari 100 bangunan berisiko, tetapi minggu lalu ini berjalan dengan sangat cepat. Kami telah mencari terpal kualitas yang tepat tetapi harus meminjam beberapa bahan tenda pengungsi dari UNHCR,” ujar dia menambahkan.





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *