Buku Tasawuf Falsafi diluncurkan SAS Institute.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Said Aqil Siroj (SAS) Institute kembali melakukan aktivitas kebangsaan dengan membedah karya monumental Prof. Kiai Said Aqil Siroj berjudul “Allah dan Alam Semesta Perspektif Tasawuf Falsafi”. Acara ini diselenggarakan secara luring dan daring melaui kantor PBNU, Senin (3/5).


Bedah buku ini, tentu dihadiri oleh Prof Kiai Said Aqil Siroj selaku penulis sekaligus Ketua Tandfidziyah PBNU. Bahkan peluncuran nasional ini juga diselenggarakan bersama-sama oleh Rektor dan Universitas dan organisasi lintas keagaaman.

Nampak bergabung jajaran Rektorat, pengajar serta mahasiswa dari IAIN Fathahul Mulk (Papua), IAIN Kendari Sulteng, IAIN Jember, Unisma Malang, UIN Raden Fatah Palembang, UIN Walisongo Semarang, IAIN Tulung Agung, FISIP USU Medan, Forum Pimpinan PTKIS Jabar, IAIN Metro Lampung dan Jaringan ICRP.

Kiai Said Aqil Siroj menuliskan buku ini sebagai karya ilmiah dari Universitas Umm al-Qura Saudi Arabia. Dirinya menyampaikan bahwa banyak tuduhan atas Ilmu Tasawuf sebagai kemunduran peradaban Islam. Setelah dikaji secara seksama dan ilmiah ternyata tuduhan itu salah besar.

Justru konsep Tasawuf menjadi jembatan manusia terhadap pencipta dan alam semesta. Bahwa pada akhirnya manusia harus tiba pada kesadaran (tertinggi) Tajalli. Dimana manusia tidak perlu takut dan tunduk atas apapun yang terjadi di dunia. Karena manusia sudah berserah dan berpasrah pada Allah sang pencipta.

Dr. Imdadun Rahmat mewakilkan jajaran dan pendiri SAS Institute yang juga turut hadir. Terlihat juga tokoh pendiri SAS Institute Ahmad Rofiq, Abdul Kholiq Ahmad, Hendrik K. Luntungan, Endang Tirtana, Kuntum Basa, Dr. Jaenal Effendi dan Abi Rekso Panggalih.

Imdadun selaku pimpinan SAS Institute menyatakan bahwa konsep Tasawuf yang telah dipaparkan oleh Kiai Said bisa menjadi pengantar dari upaya meredusir gerakan kekerasan bahkan teror atas nama agama. Konsep Tasawuf ini sangat lembut dan dalam untuk meneguhkan nilai kemanusiaan antar umat beragama. Dan SAS Institute berkomitmen untuk itu.

Hal itu juga serupa dari tokoh sentral PGI, Pendeta Gomar Gultom. Dirinya menekankan bahwa konsep nilai yang diutarakan Kiai Said bisa menjadi pemersatu umat beragama di Indonesia. Karena, pada akhirnya manusia bisa memiliki kesadaran bahwa segala yang ada di muka bumi adalah ciptaan Tuhan.

Romo Paulus C. Siswantoko seorang intelektual dan pemuka Katolik, mendorong konsep ini bisa menjadi sebuah oase perdamainan. Dirasakan konsep Tasawuf bisa menebalkan rasa cinta kasih atas manusia di dunia tanpa memandang latar belakang suku, ras dan agama.

SAS Institute memiliki komitmen yang kuat untuk terus mengkampanyekan Islam yang ramah dan berkemanusiaan. Maka penting untuk terus membangun serta merawat jaringan intelektual dan pemuka lintas agama dalam rangka menjaga agenda kebangsaan.





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *