Isu Palestina adalah isu yang sensitif di mata Muslim Amerika Serikat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Komunitas Muslim di Amerika Serikat tidak pernah berhenti untuk menyuarakan kemerdekaan terhadap bangsa Palestina. Mereka mempunyai cara tersendiri di tegah kenyataan sebagai komunitas minoritas di negara itu.


Pada sisi lain Muslim Amerika pun terus membangun komunikasi dan dialog dengan komunitas agama lainnya tak terkecuali dengan Yahudi. Seperti apa Muslim Amerika menyikapi Isu-isu tentang Palestina?


Berikut ulasan Imam Besar Masjid New York yang juga Presiden Nusantara Foundation, Ustadz Shamsi Ali melalui pesan singkat yang diterima Republika.co.id pada Ahad (14/2). 


 


Satu hal yang boleh jadi kurang dipahami saudara-saudara Muslim kita di luar Amerika Serikat adalah bahwa bagi komunitas Muslim di Amerika Serikat masalah Palestina adalah masalah yang sensitif, dan sekaligus kompleks. Masalahnya bukan saja masalah global melainkan sekaligus bisa menjadi isu domestik di Amerika Serikat.


Menyikapi isu Palestina bagi warga Muslim Amerika Serikat bagaikan makan buah simalakama. Maju kena, mundur juga kena. Dan karenanya pilihannya bisa maju dan siap dengan konsekuensinya. Tapi juga bisa mundur dan juga siap dengan konsekuensinya. 


 


Hal pertama yang harus dipahami adalah bahwa masyarakat Yahudi pada tingkatan tertentu telah berhasil menjadikan Isu Israel sebagai Isu Yahudi. Bahkan oleh sebagian, zionisme itu sendiri adalah agama Yahudi itu juga.  


 


Konsekuensinya ketika Komunitas Muslim menyampaikan resistensi kepada Israel atau kebijakan pemerintah Israel, maka resistensi itu akan dipahami sebagai kebencian kepada masyarakat Yahudi. Demikian pula ketika masyarakat Muslim mengkeritik zionisme maka hal itu bisa dipahami sebagai kritikan kepada masyarakat Yahudi.   


 


Di Amerika Serikat serangan kepada Yahudi, yang dikenal dengan anti-semitisme, sudah disahkan oleh UU sebagai kejahatan (crime). Sehingga dengan sendirinya kritikan kepada Israel bisa dipahami sebagai anti semitisme yang dipahami sebagai tindakan kejahatan. 


 


Sebaliknya bagi Komunitas Muslim Amerika, isu Palestina, khususnya Jerusalem dan Masjid Al-Aqsa, adalah masalah agama. Jerusalem adalah kota suci ketiga Umat Islam.


Dan Masjid Al-Aqsa adalah “masraa” (tempat persinggahan Isra dan Mi’raj) Rasulullah SAW. Dan karenanya membiarkannya terjajah menjadi seolah membiarkan agama direndahkan oleh orang lain.  


 


Dengan kenyataan seperti itu Komunitas Muslim Amerika Serikat mengambil sikap yang berhati-hati, imbang dan penuh perhitungan. Di satu sisi tetap membangun kekritisan dan resistensi kepada penjajahan dan kebijakan pemerintahan Israel yang seringkali penuh ketidakadilan dan refresif. Namun di sisi lain sadar bahwa sikap itu boleh jadi membawa konsekuensi yang kurang nyaman.    


Hal lain yang menjadi pertimbangan bagi masyarakat Muslim…


 


 


 





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *