Mayoritas siswa Muslim di Massachusetts pernah menjadi korban perundungan

REPUBLIKA.CO.ID, MASSACHUSETTS – Seorang gadis Muslim dengan nama samaran Yusra (14 tahun) berhenti mengenakan jilbab di sekolah menengahnya ketika gadis-gadis menyebarkan desas-desus palsu bahwa dia menjadi anggota ISIS. 


Namun ketika dia melepas jilbabnya, seorang anak laki-laki memberitahunya bahwa dia masih terlihat seperti teroris. Sedangkan siswa lainnya Ali yang berasal dari Boston menghadapi perundungan dari teman sekelasnya yang menggambarkan dirinya sebagai teroris di World Trade Center. 


Yusra dan Ali, yang namanya diubah untuk privasi, adalah dua dari hampir 200 siswa Massachusetts yang disurvei untuk analisis iklim sekolah baru-baru ini oleh Dewan Hubungan Amerika-Islam cabang Massachusetts. Laporan tersebut menemukan 61 persen siswa Muslim telah diolok-olok, dihina secara verbal, atau dilecehkan hanya karena menjadi Muslim.


Sebanyak 14 persen siswa di antaranya mengatakan mereka merasa tidak nyaman memberi tahu orang lain di sekolah bahwa mereka Muslim. 


“Kami ingin memastikan bahwa mahasiswa Muslim tahu bahwa mereka tidak sendiri dan bahwa mereka memiliki kekuatan untuk dapat melaporkan insiden intimidasi ini dan bahwa CAIR ada di sini untuk memastikan bahwa hak-hak mereka juga dilindungi sebagai pelajar dan untuk belajar,” ujar Fatuma Mohamed, petugas advokasi pemuda untuk CAIR cabang Massachusetts dalam konferensi pers pada Selasa, (4/5).  


Survei tersebut dikumpulkan kelompok lokal, yang mempelajari 190 siswa di kelas 6 hingga 12 selama tahun akademik 2019-20. Mohamed pun menjelaskan hasil temuan mereka ternyata mengecewakan. 


Studi tersebut menemukan bahwa siswa Muslim tidak diintimidasi hanya karena agama mereka, tetapi juga karena identitas sosial mereka, termasuk ras, pendapatan keluarga, dan status imigrasi.  


Sebanyak 52 persen siswa melaporkan perundungan berdasarkan ras atau etnis mereka, dan 25 persen mengatakan bahwa mereka ditindas karena pendapatan keluarga mereka. Dari siswa yang disurvei, 40 persen mengatakan bahwa mereka pernah mendengar seseorang yang mengenakan hijab dilecehkan secara fisik di sekolah.  


“Banyak kasus kami yang muncul bahwa anak muda, mereka melaporkan penindasan mereka, tetapi tidak ada yang mendengarkan mereka, dan tidak ada yang melakukan apa-apa,” ujar Mohamed.


Hampir 17 persen melaporkan hijab mereka sendiri ditarik…


 





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *