Di antara pengungsi Merapi terdapat lansia, ibu menyusui dan anak-anak.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Sebanyak 275 warga lereng Gunung Merapi yang berada di Kawasan Rawan Bencana (KRB) mengungsi di balai desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta.


“Kondisi itu berlangsung sejak Gunung Merapi dinaikkan menjadi status siaga III,” terang Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Jogjakarta, Syai’in Kodir dalam rilis yang diterima Republika.co.id


Dari jumlah warga yang mengungsi tersebut terdapat lansia, ibu menyusui dan anak-anak. Tiga kelompok rentan itu, mereka menjadi prioritas untuk diungsikan.


Dalam rangka membantu warga di pengungsian,  BMH dan SAR Hidayatullah yang tergabung dalam TASK Hidayatullah mengadakan trauma healing kepada anak-anak, Ahad (15/11).

Anak-anak di barak pengungsian sangat antusias untuk mengikuti kegiatan tersebut.David Surya Pamungkas misalnya, bocah kelas 3 SDN Srunen tersebut mengungkapkan kegembiraannya.


“Permainannya mengasyikkan, walau sederhana tapi membuat kami betah,” ungkapnya dalam rilis yang diterima Republika.co.id.


Rasa ingin tahu David sangat tinggi.  Dia belajar mengunakan kamera, bermain dengan relawan hingga wajah ceria nampak dari diri David.


Sementara itu, M Fauzan selaku koordinator lapangan TASK Hidayatullah Siaga Merapi mengungkapkan, pihaknya dalam hal tanggap siaga Merapi membutuhkan kesabaran yang tinggi.


“Status Gunung Merapi Siaga III kini dan ke  depan tidak ada yang bisa memastikan kapan berakhirnya.  Kita ikuti saja perkembangannya, maka dibutuhkan kesabaran yang tinggi,” ungkapnya.


Fauzan menambahkan, berbagai kegiatan dilakukan oleh para relawan dalam rangka membantu warga yang terdampak perkembangan Gunung Merapi.


“Semoga saja semua dalam kebaikan dan masyarakat dapat kembali hidup normal seperti biasa,” tutupnya.





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *