Industri Muslim Fashion memiliki potensi yang sangat menjanjikan.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Sejak COVID-19 ditetapkan sebagai wabah nasional (pandemi) April 2020 lalu, banyak sektor ekonomi yang terdampak olehnya, baik dalam skala nasional maupun global. Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) merupakan salah satu yang terhantam gelombang pandemi ini.


Berbagai kebijakan pemerintah seperti pembatasan sosial berskala besar (PSBB) maupun working from home (WFH) sebagai upaya menekan angka penyebaran COVID-19 secara langsung mengakibatkan demand terhadap produk dan jasa UMKM menurun secara drastis.  


Satu tahun telah berlalu sejak penetapan status COVID-19 sebagai pandemi, perlahan tapi pasti, ekonomi Tanah Air mulai bergerak bangkit menuju pemulihan. Dalam berbagai kesempatan, pemerintah mengamini bahwa UMKM merupakan roda penggerak yang diyakini berperan krusial dalam pemulihan ekonomi nasional (PEN).


Sejak 2018, Indonesian Islamic Youth Economic Forum (ISYEF) aktif mendorong pertumbuhan dan memberdayakan ekonomi berbasis masjid, termasuk UMKM pemuda di dalamnya. Hal ini menegaskan komitmen ISYEF terhadap UMKM pemuda masjid sudah ada dan bukan sebagai gerakan yang reaktif terhadap pandemi.


Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki  jumlah masjid terbanyak di dunia pula. ISYEF percaya ini adalah suatu kekuatan untuk mendorong ekonomi berbasis masjid yang sejalan dengan nafas Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM) Republik Indonesia yaitu pemberdayaan UMKM. Masjid-masjid di Indonesia bisa dimanfaatkan lebih dari sekedar tempat ibadah dan pusat kebudayaan Islam.


Dengan memakmurkan masjid dalam bentuk menjadikannya sentral dinamika umat, niscaya akan memakmurkan umat pula dalam jangka panjang. Hubungan linear antara kemakmuran masjid dengan kemakmuran ekonomi ummat bukan tidak memiliki sejarah, Rasulullah SAW telah membuktikan bahwa ekonomi ummat dapat diperbaiki melalui potensi masjid yang mampu menjadi tempat produktif. Begitupun dimasa terkini, nilai-nilai masjid sejak zaman Rasulullah SAW yang dapat diterapkan diera ketidakpastian ini harapannya dapat menjadi salah satu langkah yang tepat dalam upaya pemberdayaan UMKM. 


Berangkat dari latar belakang tersebut serta dalam rangka perayaan ulang tahun ISYEF yang ke-3, ISYEF menggelar talk show pada Kamis (29/4) bertempat di Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat. Mengangkat tema “Inspirasi Usaha Pemuda dari Masjid”, talk show ini juga merupakan bagian dari rangkaian acara Ramadhan Bersama MES yang diselenggarakan selama empat hari di empat masjid yang berbeda.


Teten Masduki, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia yang juga merupakan Wakil Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) sebagai Keynote Speaker; Atras Mafazi, Ketua Umum ISYEF; serta narasumber Akmal Mufrizal, CEO Zada; Rachmat Anggara, CMO Qasirid; dan Aghnia Banat, Ketua Program ISYEFPreneur yang memberikan pemaparan terkait Inspirasi Usaha Pemuda dari Masjid serta Andi Ashadi, Sekretaris Jenderal ISYEF selaku moderator.


Teten Masduki, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia dalam keynote speech mengapresiasi Dewan Masjid Indonesia yang sudah membentuk organisasi otonom seperti ISYEF. Menyambut baik inisiatif ISYEF yang telah digalakkan selama tiga tahun ini, Teten menyampaikan, “Proficiat kepada ISYEF yang telah menginjak usia ke-3 tahun ini. Masjid seharusnya menjadi showcase untuk business matching antara konsumen dengan produsen. Bicara UMKM, kita harus melakukan pendekatan inkubasi untuk memastikan usaha yang penuh inovasi dan teknologi sebagai ciri khas anak muda. Kita jadikan mosquepreneur.”


Selain UMKM berbasis masjid, Teten juga menyampaikan bahwa industri Muslim Fashion juga memiliki potensi  yang sangat menjanjikan dengan besarnya pasar Indonesia serta negara-negara tetangga lainnya. “Indonesia harus menjadi kiblat Muslim Fashion dunia,” tukasnya.


Atras Mafazi, Ketua Umum ISYEF menyampaikan dalam kata sambutannya ucapan syukur yang tiada tara atas perjalanan ISYEF selama tiga tahun ini. “Pertama-tama, atas nama keluarga besar ISYEF, saya mengucapkan terima kasih banyak kepada Bapak Teten Masduki sebagai Menteri Koperasi dan UKM Republik Indonesia yang berkenan hadir di tengah-tengah kita sore hari ini. Dari awal didirikan, ISYEF selalu percaya pada potensi usaha berbasis masjid. Sebagai contoh, ada ISYEF Point di Masjid Cut Meutia, dan ISYEFPreneur sebagai pemberdayaan UMKM berbasis masjid. Dengan ekonomi berbasis masjid yang semakin produktif, Insya Allah ekonomi umat pun akan semakin makmur dan sejahtera,” ujarnya.


Dalam kesempatan baik ini, bersama Teten Masduki, ISYEF juga meluncuran ISYEF Farm. ISYEF Farm adalah sebuah program pemberdayaan ekonomi masjid melalui peternakan sapi yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan para pengurus masjid dan masyarakat sekitarnya. ISYEF Farm merupakan adaptasi bagi umat di pedesaan yang memiliki karakteristik berbeda dengan umat urban. Saat ini, ISYEF Farm berlokasi di Masjid Al-Mujahidin Gunung Kidul Yogyakarta dan akan terus menambah lokasi-lokasi lainnya di hari depan.


Dalam sesi talk show yang dipandu oleh Andi Ashadi, Sekretaris Jenderal ISYEF, Akmal Mufrizal, CEO Zada; Rachmat Anggara, CMO Qasirid; dan Aghnia Banat, Ketua Program ISYEFPreneur menunjukkan adanya satu semangat yang sama, yaitu untuk membangkitkan usaha anak muda Muslim di Indonesia, khususnya yang berbasis masjid.


Sebagai contoh nyata, Zada berawal dari Remaja Masjid Cut Meutia (RICMA) dan sampai hari ini telah menghadirkan sajadah yang nyaman dengan bermodalkan 0 rupiah. Di sisi lain, Qasirid telah membantu UMKM di Indonesia dalam hal pencatatan keuangan yang lebih akurat, efektif, dan efisien. Sedangkan ISYEFPreneur sendiri selalu konsisten membawa akselerasi usaha berbasis masjid bagi anak muda di seluruh Indonesia.


Sebagai penutup acara, partisipan yang hadir melakukan acara buka bersama dengan sistem menukarkan kupon buka puasa. Kupon persembahkan ISYEF ini dapat ditukarkan dengan berbagai produk makanan dan minuman dari UMKM di sekitar Masjid Agung Sunda Kelapa. Hal ini merupakan salah satu tindakan konkrit ISYEF dalam memakmurkan usaha dari masjid. 


 





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *