UniRank mencatat tiga PTM dalam 10 besar universitas Islam.

REPUBLIKA.CO.ID,YOGYAKARTA — Tiga Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) menduduki 10 besar 2021 Top Islamic Universities versi UniRank. Ada Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).


Posisi pertama ada Universitas Muhammadiyah Malang, lalu Iran University of Science and Technology, Cairo University, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Umm Al-Qura University, dan Shahid Beheshti University of Medical Sciences.


Kemudian, Universiti Islam Antarabangsa, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Universitas Islam Indonesia. Daftar universitas Islam terbaik versi UniRank itu sendiri merujuk tiga faktor.


Pertama diakreditasi oleh organisasi terkait pendidikan tinggi yang sesuai di tiap negara. Kedua, menawarkan gelar sarjana empat tahun atau pascasarjana. Ketiga, memberi kursus, terutama dalam format pendidikan tatap muka dan nonjarak jauh.


Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir, memberi apresiasi dan terima kasih kepada PTM, Majelis Diktilitbang dan PWM. Serta, semua komponen yang berkhidmat dengan penuh komitmen, kesungguhan, pengorbanan, pengabdian dan usaha tiada henti.


Dilakukan dalam spirit tidak banyak bicara, tapi banyak bekerja nyata dan memberi membanggakan. Haedar turut berterima kasih kepada semua pihak yang telah bekerja sama dengan Muhammadiyah untuk memajukan kehidupan bangsa dan kemanusiaan semesta.


“Semuanya telah berbuat cerdas, berkualitas, profesional, objektif, serta memberi manfaat strategis dan kemanfaatan besar bagi kemajuan persyarikatan, umat, bangsa dan kemanusiaan global,” kata Haedar lewat rilis yang diterima Republika, Kamis (18/2).


Ia menilai, yang dilakukan PTM dan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), diakui nasional maupun internasional dan membanggakan itu jadi pembuktian. Pembuktian Muhammadiyah memberi energi positif yang unggul, menebar kebaikan bagi umat, bangsa dan dunia.


“Muhammadiyah selalu berkontribusi konstruktif bagi kehidupan umat manusia kapanpun dan di manapun. Muhammadiyah hadir tidak gegap gempita, tapi selalu terpanggil berbuat nyata yang memberi maslahat bagi kehidupan bersama,” ujar Haedar.


Terlebih, lanjut Haedar, pada masa pandemi covid-19 dan bencana alam yang sangat berat dihadapi bangsa Indonesia. Yang mana, saat sulit seperti ini sungguh semua pihak meniscayakan kerja-kerja nyata yang maslahat.


Meski kerja di ruang senyap tanpa riuh rendah suara publik, tapi memberi solusi untuk negeri. Haedar berharap, anggota, kader dan pimpinan Muhammadiyah di seluruh struktur dan tingkatan jadi uswah hasanah dalam meringankan saudara-saudara kita.


“Baik mereka yang terkena musibah covid-19 maupun bencana alam yang sangat berat, berdampak luas bagi kehidupan masyarakat, utamanya masyarakat bawah,” kata Haedar.





Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *